September 18, 2015

The Importances and Usefulness of Algebra



Seftika Anggraini
Kevin Major
Mathematics Class
10 May 2015
The Importances and Usefulness of Algebra
Mathematics is a subject that very important in education. From elementary school, we have accepted this subject, moreover when we are still a baby by our parent. Everyday, we are in contact with mathematics, from we wake up until we will sleep. But, there are many people who hate or do not want to learn methematics because it is difficult. Whereas it will help them in their future because mathematics is the media to train for critical thinking, inovative, creative, autonomous, and can solve problems. From this, I am interested to write a paper about the importences and usefulness mathematics in people's life so that the people have the desire to learn mathematics.
The mathematics material that is very close with our daily life is algebra. Algebra for students is used to get the high score when they do algebra test. Beside that, algebra  can help them to management their pocket money. For housewifes, algebra is can used to management the salary, the pocket money of their children, the school money, etc. Without algebra, the housewifes will be confused to management its money for a month.  And the last is algebra for the seller. The seller wanted for algebra so much so that they do not wrong when sell their product. The seller can get the profit enough. 
Mathematics is part that is very close and it can not be separated from our life, for example is application algebra. Happy learning and make intime with mathematics.

Works Cited
Mosvold, Reidar. Mathematics in Everyday Life. A Study of Beliefs and Actions. Notodden, 2004. Google Book Search. Web. 10 May 2015.
P4mriikippgrisemarang. Penerapan Matematika dalam Kehidupan Sehari-hari.21 November 2011. Web. 7 May 2015. 
Srivastas, Pawan. Short Essay of Importance Mathematics. 8 November 2013. Web. 10 May 2015.



Sourches
http://www.importantindia.com/8083/short-essay-on-importance-of-mathematics/

 

Makalah Perkembangan Peserta Didik



MAKALAH PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
Analisis Perkembangan Masa Kanak-Kanak Akhir
Santri TKA/TPA di Masjid Gandok Mulia
Pondok Pesantren Takwinul Muballighin


Disusun oleh:
Seftika Anggraini                              13301241013
Vety Triyana Kurniasari                  13301241027
Rofiah Yusuf                                     13301241039
Muhammad Fajar Romadhonni     13301241051
Mariana Ramelan                             13301241053

Pendidikan Matematika Internasional 2013

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015




BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang disesuaikan dengan perkembangan anak-anak dimana setap tahap perkembangannya memiliki ciri khas dan tugas-tugas perkembangan yang berbeda yang berhubungan dengan pendidikan yang akan diterima anak nantinya. Maka dari itu, guru atau pendidik perlu memahami setiap tahap perkembangan yang terjadi pada anak, salah satunya tahap perkembangan pada masa anak-anak akhir yaitu masa yang dialami anak pada usia 6-12 tahun.
Masa kanak-kanak akhir adalah masa dimana anak-anak akan mendapatkan pendidikan di sekolah dasar pertama kalinya. Pengalaman anak masuk ke sekolah dasar merupakan peristiwa penting bagi kehidupan anak, sehingga mengakibatkan perubahan dalam sikap, nilai, dan perilaku. Pada awal masuk sekolah dasar, anak harus melakukan penyesuain diri terhadap lingkungan baru.
Dalam makalah ini, akan dijelaskan mengenai perkembangan masa kanak-kanak akhir, dimulai dari perkembangan fisik, perkembangan kognitif, perkembangan bahasa, perkembangan bicara, perkembangan moral, perkembangan emosi, perkembangan sosial, serta implikasinya pada dunia pendidikan.
B.  Rumusan Masalah
1.    Apa yang dimaksud dengan masa kanak-kanak akhir?
2.    Bagaimana perkembangan fisik pada masa kanak-kanak akhir?
3.    Bagaimana perkembangan kognitif pada masa kanak-kanak akhir?
4.    Bagaimana perkembangan bahasa pada masa kanak-kanak akhir?
5.    Bagaimana perkembangan bicara pada masa kanak-kanak akhir?
6.    Bagaimana perkembangan moral pada masa kanak-kanak akhir?
7.    Bagaimana perkembangan emosi pada masa kanak-kanak akhir?
8.    Bagaimana perkembangan sosial pada masa kanak-kanak akhir?



BAB II
PEMBAHASAN

A.  MASA KANAK-KANAK AKHIR

Masa kanak-kanak akhir sering disebut sebagai masa usia sekolah atau masa sekolah dasar. Masa kanak-kanak akhir berlangsung dari usia 6 tahun – 13 tahun yang mengalami kematangan secara seksual. Awal dan akhir dari masa kanak-kanak akhir ditandai dengan kondisi yang sangat mempengaruhi penyesuaian pribadi & sosial. Permulaan dari masa kanak-kanak akhir ditandai dengan masuk kelas satu SD perubahan sikap, nilai & perilaku. Satu atau dua tahun terakhir dari masa kanak-kanak akan mengalami perubahan fisik yang menonjol yaitu perubahan sikap, nilai & perilaku. Periode masa kanak-kanak akhir ini dipengaruhi kematangan seksual yang berbeda antara perempuan dan laki-laki.

Ciri-ciri khas anak pada usia SD:
1.      Konformitas pd teman
2.      Sebaya / Peer Group
3.      Perkembangan Fisik
4.      Motorik : pemerolehan Ketrampilan
5.      Bermain kelompok
6.      Perkembangan moral :perkembangan hati nurani
7.      Kreativitas : eksplorasi bakat minat menuju prestasi
8.      Minat membaca



B.  PERKEMBANGAN FISIK
Analisis Perkembangan Fisik
Pertumbuhan fisik cenderung lebih stabil atau tenang sebelum memasuki masa remaja yang pertumbuhannya begitu cepat.
1.      Tinggi
            Kenaikan tinggi pertahun adalah 2 sampai 3 inchi. Rata-rata anak perempuan sebelas tahun mempunyai tinggi badan 58 inchi dan anak laki-laki 57,5 inchi.
2.      Berat
Kenaikan berat lebih bervariasi daripada kenaikan tinggi, berkisar antara 3-5 pon per tahun. Rata-rata anak perempuan sebelas tahun mempunyai berat 88,5 pon dan anak laki-laki 85,5 pon.
3.      Perbandingan tubuh
Beberapa perbandingan wajah yang kurang baik menghilang dengan bertambah besarnya mulut dan rahang, dahi melebar dan merata, bibir semakin berisi, hidung menjadi lebih besar dan lebih berbentuk. Badan memanjang dan menjadi lebih langsing, leher menjadi lebih panjang, dada melebar, perut tidak buncit, lengan dan tungkai memanjang, dan tangan dan kaki dengan lambat tumbuh membesar.
4.      Kesederhanaan
            Pebandingan tubuh yang kurang baik yang sangat mencolok pada masa akhir kanak-kanak menyebabkan meningkatnya kesederhanaan pada saat ini. Disamping itu, kurangnya perhatian terhadap penampilan dan kecenderungan untuk berpakaian seperti teman-teman tanpa memperdulikan pantas tidaknya, juga menambah kesederhanaan.
5.      Pebandingan otot lemak
Selama akhir masa kanak-kanak, jaringan lemak berkembang lebih cepat daripada jaringan otot yang perkembangannya baru mulai melejit pada awal pubertas. Anak yang berbentuk endomorfik jaringan lemaknya jauh lebih banyak daripada jaringan otot sedangkan pada tubuh mesomorfik keadaanya terbalik. Pada bentuk tubuh ektomorfik tidak terdapat jaringan yang melebihi jaringan lainnya sehingga cenderung tampak kurus.
6.      Gigi
Pada permulaan pubertas, umumnya seorang anak sudah mempunyai 22 buah gigi tetap. Keempat gigi terakhir, muncul selama masa remaja.

C.  PERKEMBANGAN KOGNITIF
Konsep pemikiran yang masih sama-samar di fase sebelumnya yaitu fase anak awal, berubah menjadi pemikiran yang lebih konkret. Oleh karena itu, tahap ini juga dinamai tahap operasi konkret. Di fase kanak-kanak akhir ini, anak sudah mampu memecahkan masalah aktual. Namun masih terbatas untuk waktu yang terkini. Anak belum bisa untuk memecahkan masalah-masalah yang sifatnya masih selanjutnya, seperti resiko yang akan diterima bila menggunaka langkah X atau bila nanti hujan dan banjir menerpa suatu wilayah maka solusi apa yang harus dilakukan. Seseorang akan bisa memecahkan masalah tersebut di fase yang lebih tinggi. Fase anak-anak akhir juga merupakan fase dimana anak sudah mengenal dunia luar, khususnya sekolah.
Sekolah berperan penting dalam fase ini karena pada anak untuk pertama kalinya masuk ke dunia pendidikan, yaitu sekolah dasar. Dalam sekolah dasar ini, daya pikir anak dibawa ke arah yang lebih konkrit, rasional, dan obyektif. Kemampuan ini ditandai dengan adanya aktivitas-aktivitas mental seperti  mengingat, memahami, dan mampu menyelesaikan masalah. Anak lebih mampu berpikir, belajar, mengingat, dan berkomunikasi meskipun dalam setiap perkembangannya berbeda – beda untuk tiap umurnya.
Seperti hasil observasi yang telah kami lakukan,

Pada observasi, kami bersama dengan anak usia 6 sampai 10 tahun, kami memberi angka acak dan kami meminta anak-anak untuk mengurutkannya. Hasilnya ternyta berbeda-beda, gambar 1 adalah hasil dari mengurutkan oleh anak berusia 6 tahun dan 7 tahun. Mereka merupakan usia termuda ditahap ini, proses berpikir merekapun masih terlihat samar, mengurutkanpun hanya mengurutkan kertas tersebut tidak memperhatikan angka-angka yang ada di dalamnya. Sedangkan untuk anak yang lebih besar umurnya mereka sudah mengurutkan sesuai dengan urutan digit yang ada di kertas. Hanya yang membedakan adalah kecepatan mereka dalam menyelesaikan pengurutan tersebut.
Analisa kami mengenai hal di atas yaitu anak sudah bisa menyelesaikan masalah yang dipaparkan. Namun, penyelesaian yang dilakukan tidak semuanya sama. Seiring dengan perbedaan usia, hasil yang diperoleh dari setiap anak berbeda beda seiring dengan usianya. Jika diberi satu masalah tanpa kita memberi penjelasan lebih. Kita bisa melihat hasil berpikir dari masing-masing anak menanggapi masalah yang disajikan.
Menurut Piaget, masa kanak-kanak akhir berada dalam tahap operasi konkret dalam berpikir (usia 7-11 tahun). Pada masa ini anak memahami volume suatu benda padat atau cair meskipun ditempatkan pada tempat yang berbeda bentuknya. Kemampuan berfikir ditandai dengan adanya aktivitas-aktivitas mental.  Pada masa ini anak mampu berfikir logis. Meskipun sudah mampu berfikir logis, tetapi cara berfikir mereka masih berorientasi pada kekinian.

D.    PERKEMBANGAN BAHASA DAN BICARA
Dalam survei yang dilakukan kepada TPA di Masjid Gandok Mulia, untuk mengetahui perkembangan bahasa dan bicara, anak-anak membaca suatu teks yang sudah disediakan. Dari sini akan terlihat bagaimana kelancaran membaca, kumpulan kosa kata yang dimiliki, dan lain-lain. Berikut ini adalah teks narasi yang digunakan:  
Indonesia adalah negeriku yang sangat kucinta. Dari Sabang sampai Merauke, berjajar pulau-pulau yang sangat kaya akan alam dan budayanya.
Indonesiaku adalah negeriku yang sangat kubanggakan. Beragam budaya yang dipersatukan dalam naungan Bhineka Tunggal Ika dan berdiri kokoh berlandaskan dasar Negara Pancasila.
Analisis Perkembangan Bahasa dan Bicara
Berdasarkan hasil survei yang kami lakukan di TPA Masjid Gondok Mulia terhadap anak-anak usia 6-12 tahun. Dapat diketahui perkembangan bahasa dan bicara pada masa kanak-kanak akhir, diantaranya :
Perkembangan bahasa dan bicara pada anak semakin meningkat sesuai dengan peningkatan usianya. Seperti survei yang kami lakukan yaitu dengan teks narasi yang disediakan, setiap anak dengan usia yang berbeda diminta untuk membaca teks narasi tersebut dan hasilnya terdapat beberapa perbedaan kemampuan membaca pada setiap anak.
·      Anak-anak usia 6-7 tahun seperti Syahdan, Karly, dan Elin, mereka tidak bisa membaca teks narasi yang diberikan karena mereka belum diperkenalkan tentang kata-kata yang terdapat dalam teks narasi tersebut. Banyak kata yang mereka tidak tahu sehingga mereka tidak bisa memahaminya. Hal ini dikarenakan anak usia 6 tahun baru diperkenalkan dengan kata-kata yang sederhana dan terdapat pada lingkungan sehari-hari.
·      Anak-anak usia 8 tahun seperti Sella, mereka bisa membaca teks narasi yang diberikan. Namun, terdapat kata-kata yang salah pengejaannya dimana mereka belum begitu mengenali kata-kata tersebut karena masih terlihat asing bagi mereka. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa dan berbicara mereka lebih tinggi dibandingkan dengan anak usia 6-7 tahun.
·      Anak usia 9 tahun seperti Iis, mereka cukup lancar dalam membaca teks narasi tersebut. Kesalahan dalam mengeja juga sedikit, hanya terdapat pada kata-kata yang memang sedikit susah dalam membacanya. Namun, beberapa kata yang terdapat pada teks narasi tersebut, mereka bisa memahami artinya.
·      Anak usia 10 tahun seperti Rohmat dan Wahyu, mereka sudah lancar dalam membaca teks narasi tersebut. Pemahaman arti kata-kata juga sudah cukup baik.
·      Anak usia 11-12 tahun, mereka sudah sangat lancar dalam membaca teks narasi. Perbendaharaan kata yang mereka miliki sudah banyak, sehingga mereka pintar dalam memilih tata bahasa yang baik untuk berbicara dengan orang lain.
Berdasarkan hasil survei yang kami lakukan di TPA Masjid Gondok Mulia terhadap anak-anak usia 6-12 tahun. Dapat diketahui perkembangan bahasa dan bicara pada masa kanak-kanak akhir, diantaranya :
1.    Perkembangan Bahasa
Pada masa kanak-kanak akhir, perkembangan bahasa nampak pada perubahan pembendaharaan kata dan tata bahasa. Dimana anak-anak pada masa ini mempunyai kemampuan dalam mengumpulkan kata-kata yang dimilikinya sesuai dengan umurnya masing-masing. Semakin tua umur anak, maka kumpulan kata-kata yang diketahuinya semakin banyak.
Bersamaan dengan pertumbuhan pembendaharaan kata selama masa sekolah, anak-anak semakin banyak menggunakan kata kerja yang tepat untuk menjelaskan satu tindakan seperti memukul, melempar, menendang, atau melempar. Mereka belajar tidak hanya untuk menggunakan banyak kata lagi, tetapi juga memilih kata yang tepat untuk penggunaan tertentu.
Perkembangan kemampuan bahasa pada anak dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu matangnya organ-organ tubuh untuk berbicara dan proses belajar.
Indikasi berkembangnya keterampilan berbahasa :
a) Mampu berkomunikasi dg baik;
b) Mampu menyatakan isi hatinya;
c) Terampil dlm mengolah informasi yg diterimanya;
d) Mampu menyatakan sikap dan keyakinannya.

2.    Perkembangan Bicara
Bertambahnya kosa kata yang diketahui anak akan memperkaya perbendaharaan kata yang dimiliki pada setiap anak. Dengan perbedaan jumlah perbendaharaan kata, akan mempengaruhi kemampuan berbicara pada anak dalam melakukan komunikasi yang lebih bermakna.
Pada awal masuk sekolah sebagian anak mengalami gangguan keseimbangan dalam penyesuain diri dengan lingkungan sekolah. Sekolah menjadi dasar penghubung dalam proses berpikir anak untuk menerjemahkan bahasa konsep ke dunia realistis atau nyata dan sebaliknya.
Membaca dan menulis menjadi dasar pengembangan kemampuan mengarang, bercerita, dan lain-lain. Minat membaca atau kegemaran membaca pada anak-anak mencapai puncaknya pada masa anak-anak akhir yaitu usia 9 – 12 tahun.
Sifat ingin tahu & realistis pada anak laki-laki lebih tinggi dibandingkan anak perempuan. Hal ini membuat anak laki-laki lebih menyukai bacaan petualangan, misterius, sejarah, hobi, sport. Sedangkan anak perempuan cenderung suka terhadap cerita binatang, puisi, dan cerita dari kitab suci maupun kehidupan seputar rumah tangga. Dari kegiatan membaca inilah anak memperkaya perbendaharaan kata dan tata bahasa sebagai bekal untuk berbicara dan berkomunikasi dengan orang lain.
Berdasarkan survei yang dilakukan, disimpulkan bahwa perkembangan bahasa dan bicara pada anak berbeda-beda sesuai dengan usia yang dimilikinya. Semakin tua usia anak maka kemampuan bahasa dan bicara pada anak juga semakin meningkat.

E.  PERKEMBANGAN MORAL
Perkembangan moral ditandai dengan kemampuan anak untuk memahami aturan, norma dan etika yang berlaku di masyarakat. Untuk mengetahui perkembangan moral anak pada masa kanak-kanak akhir, anak-anak diberikan dua pertanyaan berikut ini:
1.      Mana yang lebih bersalah, menjatuhkan 4 gelas secara tidak sengaja atau menjatuhkan 1 gelas secara sengaja?
2.      Ketika bermain, memilih kalah atau menang tapi dengan cara curang?
Jawaban dari anak-anak TPA tersebut adalah:
a.       Rohmat (Kelas IV SD, Umur 10 tahun)
1.      Memecahkan 1 gelas secara sengaja.
2.      Memilih kalah dengan cara yang baik.
b.      Wahyu (Kelas IV SD, Umur 10 tahun)
1.      Memecahkan 1 gelas secara sengaja.
2.      Memilih kalah dengan cara yang baik.
c.       Iis Febriyani (Kelas III, Umur 9 tahun)
1.      Memecahkan 1 gelas secara sengaja.
2.      Memilih kalah , karena curang itu dosa.
d.      Elin (Kelas I, Umur 7 tahun)
1.      Memecahkan 1 gelas secara sengaja. (kok pertanyaannya sulit)
2.      Memilih kalah.
e.       Karly (TK, Umur 6 tahun)
1.      Memecahkan 1 gelas secara sengaja.
2.      Memilih menang.
f.       Syahdan (TK, Umur 6 tahun)
1.      Memecahkan 2 gelas secara sengaja.
2.      Memilih menang tapi gak curang.
g.      Ata (TK, Umur 5 tahun)
1.      Memecahkan 1 gelas secara sengaja.
2.      Memilih kalah
h.      Sella (SD kelas II, Umur 8 tahun)
1.      Memecahkan 4 gelas secara gak sengaja.
2.      Memilih kalah
Berdasarkan hasil survei yang kami lakukan, anak-anak masih mengikuti etika yang berlaku, seperti pertanyaan pertama 6 anak menjawab lebih bersalah jika menjatuhkan 1 gelas tapi dengan cara sengaja, 1 anak menjawab menjatuhkan 4 gelas tanpa sengaja, dan 1 anak menjawab menjatuhkan 2 gelas secara sengaja. Perilaku moral ini banyak dipengaruhi oleh pola asuh orang tuanya serta perilaku moral dari orang-orang disekitarnya. Perkembangan moral ini juga tidak terlepas dari perkembangan kognitif dan emosi anak.
Menurut Piaget, antara usia 5 sampai 12 tahun konsep anak mengenai keadilan sudah berubah. Pengertian yang kaku tentang benar salah mengenai keadilan sudah berubah. Piaget menyatakan bahwa relativisme moral menggantikan moral yang kaku. Piaget berpendapat bahwa anak yang lebih muda ditandai dengan moral yang heteronomous, sedangkan anak pada usia 10 tahun mereka sudah bergerak ke tingkat yang lebih tinggi yang disebut moralitas autonomous.
Menurut Kohlberg tingkat kedua dari perkembangan moral masa ini disebut tingkat konvensional. Dalam tingkat kedua Kohlberg menyatakan bahwa bila kelompok sosial menerima peraturan-peraturan yang sesuai bagi semua anggota kelompok, ia harus menyesuaikan diri dengan peraturan untuk menghindari penolakan kelompok dan celaan. Pengembangan moral termasuk nilai-nilai agama merupakan hal yang sangat penting dalam membentuk sikap dan kepribadian anak. Mengenalkan anak pada nilai-nilai agama dan memberikan pengarahan terhadap anak tentang hal-hal yang terpuji dan tercela .

F.   PERKEMBANGAN EMOSI
Emosi memaikan peran yang penting dalam kehidupan anak. Akibat dari emosi ini juga dirasakan oleh fisik anak terutama bila emosi itu kuat dan berulang-ulang. Sering dan kuatnya emosi anak akan merugikan penyesuaian sosial anak. Emosi yang tidak menyenangkan (unpleasant emotion) seperti takut, marah, cemburu, irihati dapat merugikan perkembangan anak. Sedangkan emosi yang menyenangkan (pleasant emotion) seperti kasih saying, kebahagiaan, rasa ingin tau, suka cita sangat membantu dan sangat dibutuhkan dalam perkembangan anak.
Pergaulan yang semakin luas dengan teman sekolah dan teman sebaya membawa anak belajar bahwa ungkapan emosi yang kurang baik tidak diterima oleh teman-temannya. Anak belajar mengendalikan ungkapan-ungkapan emosi yang kurang dapat diterima, seperti: amarah, menyakiti perasaan teman, ketakutan dan sebagainya.
Perkembangan emosi pada masa kanak-kanak akhir  juga tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan social. Orang-orang disekitarnyalah yang banyak mempengaruhi perilaku sosialnya. Dunia sosioemosional anak menjadi semakin kompleks dan berbeda pada masa ini. Interaklsi dengan keluarga, teman sebaya, sekolah dan hubungan dengan guru memiliki peran yang pentingdalam hidup anak. Pemahaman tentang diri dan perubahan dalam perkembangan gender dan moral menandai perkembangan anak selama masa kanak-kanak akhir.
Ciri-ciri Emosi Masa kanak-kanak:
  1. Emosi  anak berlangsung relative lebih singkat (sebentar), hanya beberapa menit dan sifatnya tiba-tiba. Hal ini disebabkan karena emosi anak menampakkan dirinya di dalam kegiatan atau gerakan yang Nampak, sehingga menghasilkan emosi yang pendek, tidak seperti pada orang dewasa yang dapat berangsung lama. Emosi yang khusus pada anak-anak adalah: kesedihan, kemurungan, ketakutan, ketegangan, kebahagiaan, humor dan sebagainya
  2. Emosi anak kuat atau hebat. Hal ini terlihat bila anak: takut, marah atau sedang bersenda gurau. Mereka akan tampak marah seklai, takut sekali, tertawa terbahak-bahak meskipun kemudian cepat hilang.
  3. Emosi anak mudah berubah. Sering kita jumpai seorang anak yang baru saja menagis berubah menjadi tertawa, dari marah berubah tersenyum. Sering terjadi perubahan, saling berganti-ganti emosi, dari emosi susah ke emosi senang dan sebaliknya dalam waktu yang singkat.
  4. Emosi anak Nampak berulang-ulang. Hal ini timbul karena anak dalam proses perkembangan kea rah kedewasaan. Ia harus mengadakan penyesuaian terhadap situasi di luar, dan hal ini dilakukan secara berulang-ulang. Anak sering menagis, sering marah, sering takut. Mungkin anak sehari menagis 7 kali, marah 5 kali dan seterusnya.
  5. Respon emosi anak berbeda-beda. Pada waktu bayi lahir, pola responnya sama. Secara berangsur-angsur , pengalaman belajar dari lingkungannya membentuk tingkah laku dengan perbedaan emosi secara individual.  Misalnya: anak yang dibawa ke dokter giri, responnya ada yang tertawa, ada yang menangis, ada yang tidak memperliahtkan reaksi apapun.
  6. Emosi anak dapat diketahui atai dideteksi dari gejala tingkah lakunya. Meskipun anak kadang-kadang tidak memperlihatkan reaksi emosi yang Nampak dan langsung, namun emosi itu dapat diketahui dari tingkah lakunya, misalnya melamun, gelisah, menghisap jari, sering menagis dan sebagainya.
  7. Emosi anak mengalami perubahan dalam kekuatannya. Suatu ketika emosi itu begiti kuat, kemudian berkuarng. Emosi yang lain mula-mula lemah kemudian beribah menjadi kuat. Misalnya: seorang anak memperlihatkan rasa malu-malu di tempat yang masih asing. Kemudian ketika ia sudah tidak merasa asing lagi rasa malunya berkurang atau bahkan hilang.
  8. Perubahan dalam ungkapan-ungkapan emosional. Anak-anak memperlihatkan keinginan yang kuat terhadap apa yang mereka inginkan. Ia tidak mempertimbangkan bahwa keinginan itu merupakan  baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain, juga tidak mempertimbangkan bahwa untuk memenuhi keinginannya itu memerlukan biaya yang tidak terjangkau oleh orangtuanya. Bila keinginannya tidak terpenuhi ia akan marah. Sebaliknya jika ia merasa senang, bahagia, tanpa melihat tempat dan waktu ia akan tersenyum atau tertawa, meskipun orang lain kadang-kadang tidak mengetahui apa yang dirasakan oleh anak.

G.    PERKEMBANGAN SOSIAL
Perkembangan emosi tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan sosial, yang sering disebut dengan perkembangan tingkah laku sosial. Bahkan perkembangan sosial ini yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Untuk mengetahui perkembangan sosial anak pada masa kanak-kanak akhir, anak-anak diberikan dua pertanyaan berikut ini:
1.      Kamu mempunyai 2 roti dengan rasa yang berbeda dan kedunya kamu suka. Bila ada teman yang tidak memiliki roti dan sedang lapar, apa yang akan kamu lakukan?
2.      Apakah kamu sering belajar kelompok? Berikan alasanmu.
Jawaban dari anak-anak  TPA tersebut adalah:
a.       Rohmat (Kelas IV SD, Umur 10 tahun)
1.      Memberi rotinya kepada teman yang lapar
2.      Sering, karena membuat tugas.
b.      Wahyu (Kelas IV SD, Umur 10 tahun)
1.      Memberi rotinya kepada teman dengan ikhlas
2.      Sering, supaya pintar, ngerjain tugas dan bisa bertemu dengan teman-teman.
c.       Iis Febriyani (Kelas III, Umur 9 tahun)
1.      Memberi rotinya, karena kalo enggak dikasih nanti dibilang pelit.
2.      Suka, tapi jauh-jauh rumahnya. Jadi, belajar kelompoknya kalau di kelas saja.
d.      Sella (SD kelas II, Umur 8 tahun)
1.      Mau ngasih
2.      Sering, hampir setiap hari.
e.       Elin (Kelas I, Umur 7 tahun)
1.      Dikasih aja, diikhlasin aja.
2.      Pernah 1x karena disuruh bu guru. Kalo gak disuruh tetap mau belajar kelompok.
f.       Karly (TK, Umur 6 tahun)
1.      Dikasih aja, takut nangis temannya.
2.      Belum pernah
g.      Syahdan (TK, Umur 6 tahun)
1.      Mau ngasih 1 yang coklat
2.      Suka ke rumah Karli
h.      Ata (TK, Umur 5 tahun)
1.      Gak mau ngasih
2.      Tidak pernah soalnya rumahnya jauh.

   Berdasarkan hasil survei di atas, ketika ditanya apakah akan membagi salah satu rotinya ke teman, 7 anak menjawab akan memberikan salah satu roti tersebut ke teman yang sedang lapar meskipun kedua rotinya dia suka. Hanya satu anak yang tidak akan memberikan ke teman yang lapar yaitu Ata yang masih berumur 5 tahun yang tergolong usia anak awal. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan sosial anak akhir lebih baik daripada anak usia awal yang masih mementingkan diri sendiri.
Pertanyaan kedua adalah pertanyaan tentang seberapa sering anak-anak belajar kelompok dengan temannya. Untuk anak kelas IV ke atas, mereka sering belajar kelompok karena ingin menyelesaiakn tugas kelompok mereka dengan baik. Sedangkan untuk Isti yang kelas III, dia suka belajar kelompok tetapi rumahnya jauh-jauh, jadi jarang bahkan hampir tidak pernah belajar kelompok. Isti hanya belajar kelompok di sekolah ketika bertemu dengan teman-temannya. Untuk kelas I dan kelas II, mereka juga belajar kelompok untuk menyelesaikan tugas dari guru. Dari hasil survei tersebut nampak bahwa anak-anak pada masa kanak-kanak akhir lebih banyak menghabiskan waktunya bersama teman-teman sebaya di sekolah, sehingga perkembangan sosial anak mendapat pengaruh terbesar dari teman sebaya di lingkungan sekolah. Menurut Santrock, 1998, yang dikutip dari makalah yang disusun oleh Langgersari Elsari Novianti, teman sebaya pada masa ini memiliki 6 fungsi, yakni: persahabatan, motivasi/mendorong, physical support, ego support, untuk perbandingan sosial, keintiman/relasi afeksi. Untuk itu, guru menggantikan fungsi orang tua di sekolah.   Guru perlu memperhatikan kegiatan siswa-siswanya di sekolah. Memberikan pengarahan dan bimbingan dalam interaksi mereka.
Tidak hanya di sekolah, lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat pun ikut menyumbang perkembangan sosial anak. Meskipun waktu anak-anak bersama keluarganya cenderung berkurang karena anak lebih banyak di sekolah dan atau bermain dengan teman-teman sebayanya, namun dalam hal penanaman norma sosial, kontrol, dan disiplin, orang tua masih memiliki peranan penting bagi anak.


BAB III
PENUTUP

Perkembangan masa kanak-kanak akhir yang meliputi perkembangan fisik, kognitif, bahasa, bicara, moral, emosi, dan sosial. Setiap perkembangan dipengaruhi oleh faktor usia, kematangan, dan lingkungan sekitar. Pada masa ini anak memiliki pergaulan yang semakin luas, tidak hanya di lingkungan keluarga, namun juga mencakup lingkungan sekolah, lingkungan teman sebaya, dan lingkungan masyarakat. Hal ini, memungkinkan anak untuk melakukan interaksi sosial dengan orang lain sehingga dapat mempengaruhi perkembangan emosi, moral, dan sosial mereka.
Perkembangan anak yang berbeda-beda akan mempengaruhi pendidikan yang akan diterima setiap anak sesuai tahap perkembangannya. Maka dari itu, pendidikan dasar yang mereka dapat harus sesuai dengan perkembangan masing-masing anak sehingga anak dapat menerima apa yang diajarkan dengan baik dan memahami tugas-tugas perkembangan yang seharusnya dilakukan pada usia mereka.










DAFTAR PUSTAKA

Izzaty, Rita Eka. 2013. Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta: UNY Press.
Kuntjojo. 2010. Perkembangan Peserta Didik. Universitas Nusantara PGRI Kediri.
Novianti, Langgersari Elsari. 2009. Perkembangan Sosial Pada Anak Homescooling Usia Sekolah Dasar (6-12 Tahun). http://pustaka.unpad.ac.id diunduh pada 26 April 2015.
Syaodih, Ernawulan. Psikologi Perkembangan. Pdf.






Modul P5 Fase E Tema Gaya Hidup Berkelanjutan: Berkolaborasi Membangun Sekolah Nyaman dan Asri

Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) merupakan bagian yang wajib dilaksanakan dalam pelaksanaan kurikulum merdeka. Sebelum me...