Refleksi Kuliah Filsafat
Pendidikan Matematika
Tanggal 11 Oktober 2016
Dosen: Prof. Marsigit
Jawaban
Singkat adalah Jawaban yang Paling Berbahaya
Perkuliahan
Filsafat Pendidikan Matematika dilaksanakan pada tanggal 11 Oktober 2016 yang
dimulai pada pukul 7.30 WIB di Ruang Kuliah D.07.2.01.09 Fakultas Matematiika
dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta. Perkuliahan diawali
dengan tes jawab cepat sebanyak 50 soal, kemudian dilanjutkan dengan
mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan bebas yang ditemui dalam kehidupan. Pertanyaan-pertanyaan
ini nantinya akan dijawab oleh Pak Marsigit dalam pertemuan tersebut.
Setelah
tes, antar mahasiswa mengoreksi pekerjaan mahasiswa lain. Hasilnya adalah 2
mahasiswa mendapat nilai dua, 1 mahasiswa mendapat nilai empat, 1 mahasiswa
mendapat nilai 6, dan 24 mahasiswa mendapat nilai nol. Pak Marsigit mengatakan
bahwa ini berarti secara filsafat, Pak Marsigit sedang berbicara dengan makhluk
halus, karena mahasiswa mendapat nilai 0 yang artinya mahasiswa tidak ada di
tempat tersebut (ruang kuliah). Pertanyaan-pertanyaan dalam tes tersebut
memiliki fungsi berstuktur, mulai dari materisl sampai spiritual. Stuktur dunia
ini dimulai dari material dan yang paling tinggi adalah spiritual. Secara
spiritual, nilai 0 diartikan sebagai anjuran untuk bertaubat dari kesombongan
tidak mau belajar (membaca blog) karena semua jawaban dari tes sudah ada dalam
postingan blog Pak Marsigit. Sedangkan secara material, nilai 0 diartikan
dengan "dijewer" (dalam Bahasa Jawa) atau ditarik telingannya sebagai
bentuk peringatan/hukuman secara material.
Dari
hasil tes tersebut juga dapat diartikan bahwa tidak ada yang dapat mengejar
pikiran Pak Marsigit. Bahkan Pak Marsigit tidak dapat mengejar pikiran Pak
Marsigit sendiri, apalagi orang lain. Ilustrasinya, Pak Marsigit di ruang
kuliah namun pikirannya sudah di senat, lalu berangkat ke Tokyo, setelah itu
pulang ke rumah, jadi apa yang akan dikejar. Pak Marsigit tidak dapat mengejar
dirinya sendiri., apalagi orang lain. Maka, sebenar-benarnya hidup adalah interaksi
(hermeunitika), terjemah-menterjemahkan. Selain itu, semua saling berpasangan,
suami dan istri, anak dan bapak, napas dan darah, yang ada dan yang munkgin
ada, sebenar-benar hidup adalah struktur yang paling sederhana yaitu yang ada.
Bentuk yang ada itu ada dua, yaitu wadah dan isinya. Contoh, ucapan dan
maksudnya, ucapan sebagai wadah dan maksud sebagai isinya.
Yang
selanjutnya adalah menjawab pertanyaan yang ditulis mahasiswa dalam selembar
kertas. Pertanyaan pertama adalah "Apakah jawaban saya dalam tes jawab singkat
terkait dengan filsafat?"
Jawaban
yang diberikan oleh Pak Marsigit adalah "Filsafat itu jawabannya ruang dan
waktu. Pertanyaan yang sama bisa memiliki jawaban yang berbeda. Jawaban
bergantung pada konteksnya. Dan jawaban-jawaban yang diberikan pada tes jawab
singkat itu semua salah. Karena tiadalah jawaban yang singkat di dalam
filsafat. Jawaban singkat bukanlah menjelaskan dan jawaban singkat itu paling
berbahaya di dunia. Seperti orang yang menggunakan pisau dan digunakan dalam
satu kali tusuk.
Jawaban
singkat itu artinya memilih dan memilih artinya reduksi. Reduksi berarti
mengambil satu dan membuang yang lain. Misalnya kita memandang salah satu
orang, artinya kita mengeliminasi yang lain. Tereliminasi itu berbahaya. Namun,
kita tidak dapat hidup jika tidak dapat memilih. Maka, sebenar-benar hidup
adalah memilih dan melengkapi.
Pada
saat itu, kita semua sedang mendengarkan suara Air Conditioner (AC).
Suara AC itu menunjukkan bahwa ada yang berputar di dalamnya. Dan setelah
berputar, lalu dihembuskan. Sebenar-benar kehidupan AC adalah linier dan
siklik. Ketika kita menghirup udara, terjadi proses linier. Udara berjalan di
dalam tubuh dengan berputar. Karena jika udara itu berjalan lurus, maka hanya
akan ada beberapa darah yang kena. Dan efeknya mata kita menjadi tidak imbang.
Satu terkena oksigen dan yang satu tidak terkena oksigen sehingga menjadi tidak
simetris. Hidup itu adalah keseimbangan, seperti halnya mata. Jika mata kiri
dan mata kanan tidak seimbang, itu sudah menjadi masalah bagi kita, apalagi
jika hidup kita tidak seimbang.
Jika kita bicara satu sisi dalam filsafat,
Itu hal yang merugikan untuk yang lain. Kenapa, itu baru separuh dunia, karena separuh
dunia yang lain adalah pikiran. Dalam filsfat, pikirkanlah pengalamanmu itu
kemudian wujudkanlah pikiranmu itu, artinya nyata dalam kehidupan seperti itu
dan itupun baru kelihatan utuh dalam ¾, untuk separuhnya lagi digabungkan hanya
baru dapat separuh, yang separuhnya lagi hati kita.Tidak cukup untuk dipikirkan
tapi doakan pikiranmu itu dan kerjakanlah doamu itu. Pikiran kacau jika tidak
diimbangi dengan membaca, contohnya pembicaraan orang orang awam di lingkungan
masyarakat itu hanya sepotong-potong dan tarsial. Hanya orang-orang dalam
bidangnya yang bisa menjawab. Filsafat yang ada itu bisa ontologi dan bisa
metafisik. Filsafat mengada, yang ontologi bisa dijawab dalam metafisik.
Filsafat berbeda dengan matematika,
filsafat hanya terbayang-bayang sedangkan matematika dari yang tidak jelas
menjadi jelas. Pikiran dalam level umum mewadahi semuanya, epismotologi, tetapi
pikiran yang tidak memikirkan pengalaman namanya rosionalisme. Filsafat itu
ilmu yang lembut dan dirasakan, semua itu tergantung levelnya, sedangkan
matematika itu tergantung definisinya. Immanuel Kant mengatakan matematika bukan
ilmu, menurutnya ilmu adalah gabungan antara berfikir dan pengalaman.
Pertanyaan kedua adalah "Kenapa
melihat keburukan orang lain itu lebih muda daripada melihat keburukan
sendiri?"
Sebelum menjawab, kita harus tau kenapa
psikologi difilsafatkan dan kita juga harus membedakan phsikologi, filsafat,
sisologi. Agar bisa membedakan dengan cara membaca supaya bisa mencairkan
suasana. Kenapa melihat keburukan orang lain itu lebih mudah, karena orang itu
memiliki ego. Ego itu ikhtiar dan takdir, untuk menyikapi ego adalah dengan
disyukuri. Setiap yang ada dan yang mungkin ada adalah dunianya, dunia
penglihatan, dunia pendengaran, dunia kata-kata. Rekayasa manusia adalah
rekayasa alami, jangan ibaratkan hidup seperti baterai karena rasanya sangat
tersiksa. Syarat untuk mencari ilmu adalah keterbukaan pikiran dan hati, yang
menutupi pikiran dan hati adalah kesombongan. Sumber dari kesombongan adalah
ego.
Pertanyaan ketiga adalah "Kenapa
manusia merasa tidak pernah puas
terhadap yang dimiliki?"
Karena manusia hanya berinteraksi antara
puas dan tidak puas. Kalau kita sudah jelas, jelas itu dilevel tertentu dan di
ruang tertentu, misalnya rumus abc. Selama masih ada hal yang belum kita
ketahui disitu juga kita belum begitu jelas. Ini hanyalah mitos dan mitos itu
bisa dibuat orang lain, sebenar-benar mitos itu diciptakan subyeknya.
Pertanyaan keempat adalah "Apa maksud
dari menembus ruang dan waktu?"
Menembus ruang dan waktu adalah waktu yang lalu, waktu
sekarang dan waktu yang akan datang. Tidak ada di dunia ini yang tidak bisa
dikaitkan dengan waktu. Kesimpulannya adalah tidak ada yang bisa dikaitkan
dengan kapan. Manusia itu unlimited dalam limited, limited
dalam unlimited. Hidup manusia sempurna dan tidak sempurna semua bisa
didefinisikan.
Tidak ada didunia ini yang bisa dikaitkan
dengan tempat, bisa kita tahu lewat dimana tetapi dimana itu bisa di depan apa
saja. Sebenar-benar hidup adalah, kita paham waktu dalam menggunakan ruang dan
sebenar-benar hidup adalah kita menggunakan ruang dalam memahami waktu. Jadi mendefinisikan
waktu menggunakan ruang dan mendefinisikan ruang menggunakan waktu.
Sebenar-benar hidup kita adalah interaksi menterjemahkan antara waktu dan ruang
terus menerus selama hidup. Waktu bisa diartikan sebagai Google Earth,
bisa di zoom out bisa juga di zoom in.
Pertanyaan kelima adalah "Kapan
seseorang dikatakan dewasa?"
Dewasa itu terminologi psikologi.
Psikologi itu gejala jiwa artinya ilmu yang mempelajari gejala jiwa. Semua yang
ada dan mungkin ada kalau dalam filsafat. Arti dewasa dalam filsafat orang
terlihat dewasa itu berstruktur berherarki. Psikologi dan filsafat beda dalam
pandangannya, dalam psikologi dewasa itu menurut pendapat orang lain sedangkan
dalam filsafat dicari ontologinya atau hakikatnya. 1001 indikator dewasa kita
berfikir tarsial dalam rangka politik, misalnya dari sisi waktu dan material.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar