MAKALAH
PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
Analisis
Perkembangan Masa Kanak-Kanak Akhir
Santri
TKA/TPA di
Masjid Gandok Mulia
Pondok Pesantren Takwinul Muballighin
Disusun
oleh:
Seftika
Anggraini 13301241013
Vety
Triyana Kurniasari 13301241027
Rofiah
Yusuf 13301241039
Muhammad
Fajar Romadhonni 13301241051
Mariana
Ramelan 13301241053
Pendidikan
Matematika Internasional 2013
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS
NEGERI YOGYAKARTA
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pendidikan yang baik adalah
pendidikan yang disesuaikan dengan perkembangan anak-anak dimana setap tahap
perkembangannya memiliki ciri khas dan tugas-tugas perkembangan yang berbeda
yang berhubungan dengan pendidikan yang akan diterima anak nantinya. Maka dari
itu, guru atau pendidik perlu memahami setiap tahap perkembangan yang terjadi
pada anak, salah satunya tahap perkembangan pada masa anak-anak akhir yaitu
masa yang dialami anak pada usia 6-12 tahun.
Masa kanak-kanak akhir adalah masa
dimana anak-anak akan mendapatkan pendidikan di sekolah dasar pertama kalinya.
Pengalaman anak masuk ke sekolah dasar merupakan peristiwa penting bagi
kehidupan anak, sehingga mengakibatkan perubahan dalam sikap, nilai, dan
perilaku. Pada awal masuk sekolah dasar, anak harus melakukan penyesuain diri
terhadap lingkungan baru.
Dalam
makalah ini, akan dijelaskan mengenai perkembangan masa kanak-kanak akhir,
dimulai dari perkembangan fisik, perkembangan kognitif, perkembangan bahasa,
perkembangan bicara, perkembangan moral, perkembangan emosi, perkembangan
sosial, serta implikasinya pada dunia pendidikan.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan masa kanak-kanak akhir?
2. Bagaimana perkembangan fisik pada masa
kanak-kanak akhir?
3. Bagaimana perkembangan kognitif pada
masa kanak-kanak akhir?
4. Bagaimana perkembangan bahasa pada masa
kanak-kanak akhir?
5. Bagaimana perkembangan bicara pada masa
kanak-kanak akhir?
6. Bagaimana perkembangan moral pada masa
kanak-kanak akhir?
7. Bagaimana perkembangan emosi pada masa
kanak-kanak akhir?
8. Bagaimana perkembangan sosial pada masa
kanak-kanak akhir?
BAB II
PEMBAHASAN
A. MASA KANAK-KANAK AKHIR
Masa kanak-kanak akhir
sering disebut sebagai masa usia sekolah atau masa sekolah dasar. Masa
kanak-kanak akhir berlangsung dari usia 6 tahun – 13 tahun yang mengalami kematangan
secara seksual. Awal dan akhir dari masa kanak-kanak akhir ditandai dengan
kondisi yang sangat mempengaruhi penyesuaian pribadi & sosial. Permulaan
dari masa kanak-kanak akhir ditandai dengan masuk kelas satu SD perubahan
sikap, nilai & perilaku. Satu atau dua tahun terakhir dari masa kanak-kanak
akan mengalami perubahan fisik yang menonjol yaitu perubahan sikap, nilai &
perilaku. Periode masa kanak-kanak akhir ini dipengaruhi kematangan seksual yang
berbeda antara perempuan dan laki-laki.
Ciri-ciri khas anak pada usia SD:
1.
Konformitas pd teman
2.
Sebaya / Peer Group
3.
Perkembangan Fisik
4.
Motorik : pemerolehan Ketrampilan
5.
Bermain kelompok
6.
Perkembangan moral :perkembangan hati nurani
7.
Kreativitas : eksplorasi bakat minat menuju prestasi
8. Minat membaca
B. PERKEMBANGAN FISIK
Analisis Perkembangan
Fisik
Pertumbuhan fisik cenderung lebih stabil atau tenang sebelum
memasuki masa remaja yang pertumbuhannya begitu cepat.
1.
Tinggi
Kenaikan
tinggi pertahun adalah 2 sampai 3 inchi. Rata-rata anak perempuan sebelas tahun
mempunyai tinggi badan 58 inchi dan anak laki-laki 57,5 inchi.
2.
Berat
Kenaikan berat lebih bervariasi daripada kenaikan tinggi, berkisar antara
3-5 pon per tahun. Rata-rata anak perempuan sebelas tahun mempunyai berat 88,5
pon dan anak laki-laki 85,5 pon.
3.
Perbandingan
tubuh
Beberapa perbandingan wajah yang kurang baik menghilang dengan bertambah
besarnya mulut dan rahang, dahi melebar dan merata, bibir semakin berisi,
hidung menjadi lebih besar dan lebih berbentuk. Badan memanjang dan menjadi
lebih langsing, leher menjadi lebih panjang, dada melebar, perut tidak buncit,
lengan dan tungkai memanjang, dan tangan dan kaki dengan lambat tumbuh
membesar.
4.
Kesederhanaan
Pebandingan
tubuh yang kurang baik yang sangat mencolok pada masa akhir kanak-kanak
menyebabkan meningkatnya kesederhanaan pada saat ini. Disamping itu, kurangnya
perhatian terhadap penampilan dan kecenderungan untuk berpakaian seperti
teman-teman tanpa memperdulikan pantas tidaknya, juga menambah kesederhanaan.
5.
Pebandingan
otot lemak
Selama akhir masa kanak-kanak, jaringan lemak berkembang lebih cepat
daripada jaringan otot yang perkembangannya baru mulai melejit pada awal
pubertas. Anak yang berbentuk endomorfik jaringan lemaknya jauh lebih banyak
daripada jaringan otot sedangkan pada tubuh mesomorfik keadaanya terbalik. Pada
bentuk tubuh ektomorfik tidak terdapat jaringan yang melebihi jaringan lainnya
sehingga cenderung tampak kurus.
6.
Gigi
Pada permulaan pubertas, umumnya seorang anak sudah mempunyai 22 buah gigi
tetap. Keempat gigi terakhir, muncul selama masa remaja.
C. PERKEMBANGAN KOGNITIF
Konsep pemikiran yang masih sama-samar di fase
sebelumnya yaitu fase anak awal, berubah menjadi pemikiran yang lebih konkret.
Oleh karena itu, tahap ini juga dinamai tahap operasi konkret. Di fase
kanak-kanak akhir ini, anak sudah mampu memecahkan masalah aktual. Namun masih
terbatas untuk waktu yang terkini. Anak belum bisa untuk memecahkan
masalah-masalah yang sifatnya masih selanjutnya, seperti resiko yang akan
diterima bila menggunaka langkah X atau bila nanti hujan dan banjir menerpa suatu
wilayah maka solusi apa yang harus dilakukan. Seseorang akan bisa memecahkan
masalah tersebut di fase yang lebih tinggi. Fase anak-anak akhir juga merupakan
fase dimana anak sudah mengenal dunia luar, khususnya sekolah.
Sekolah berperan penting dalam fase ini karena pada
anak untuk pertama kalinya masuk ke dunia pendidikan, yaitu sekolah dasar.
Dalam sekolah dasar ini, daya pikir anak dibawa ke arah yang lebih konkrit,
rasional, dan obyektif. Kemampuan ini ditandai dengan adanya
aktivitas-aktivitas mental seperti
mengingat, memahami, dan mampu menyelesaikan masalah. Anak lebih mampu
berpikir, belajar, mengingat, dan berkomunikasi meskipun dalam setiap
perkembangannya berbeda – beda untuk tiap umurnya.
Seperti
hasil observasi yang telah kami lakukan,
Pada observasi, kami bersama dengan anak usia 6
sampai 10 tahun, kami memberi angka acak dan kami meminta anak-anak untuk
mengurutkannya. Hasilnya ternyta berbeda-beda, gambar 1 adalah hasil dari
mengurutkan oleh anak berusia 6 tahun dan 7 tahun. Mereka merupakan usia
termuda ditahap ini, proses berpikir merekapun masih terlihat samar,
mengurutkanpun hanya mengurutkan kertas tersebut tidak memperhatikan
angka-angka yang ada di dalamnya. Sedangkan untuk anak yang lebih besar umurnya
mereka sudah mengurutkan sesuai dengan urutan digit yang ada di kertas. Hanya
yang membedakan adalah kecepatan mereka dalam menyelesaikan pengurutan
tersebut.
Analisa kami mengenai hal di atas yaitu anak sudah
bisa menyelesaikan masalah
yang dipaparkan. Namun, penyelesaian yang dilakukan tidak semuanya sama.
Seiring dengan perbedaan usia, hasil yang diperoleh dari setiap anak berbeda
beda seiring dengan usianya. Jika diberi satu masalah tanpa kita memberi penjelasan
lebih. Kita bisa melihat hasil berpikir dari masing-masing anak menanggapi
masalah yang disajikan.
Menurut Piaget,
masa kanak-kanak akhir berada dalam tahap operasi konkret dalam berpikir
(usia 7-11 tahun). Pada masa ini anak memahami volume suatu benda padat atau
cair meskipun ditempatkan pada tempat yang berbeda bentuknya. Kemampuan
berfikir ditandai dengan adanya aktivitas-aktivitas mental. Pada masa ini anak mampu berfikir logis.
Meskipun sudah mampu berfikir logis, tetapi cara berfikir mereka masih
berorientasi pada kekinian.
D.
PERKEMBANGAN BAHASA DAN BICARA
Dalam survei yang dilakukan
kepada TPA di Masjid Gandok Mulia, untuk mengetahui perkembangan bahasa dan
bicara, anak-anak membaca suatu teks yang sudah disediakan. Dari sini akan
terlihat bagaimana kelancaran membaca, kumpulan kosa kata yang dimiliki, dan lain-lain.
Berikut ini adalah teks narasi yang digunakan:
Indonesia
adalah negeriku yang sangat kucinta. Dari Sabang sampai Merauke, berjajar
pulau-pulau yang sangat kaya akan alam dan budayanya.
Indonesiaku
adalah negeriku yang sangat kubanggakan. Beragam budaya yang dipersatukan dalam
naungan Bhineka Tunggal Ika dan berdiri kokoh berlandaskan dasar Negara
Pancasila.
Analisis Perkembangan
Bahasa dan Bicara
Berdasarkan hasil survei yang kami lakukan di TPA
Masjid Gondok Mulia terhadap anak-anak usia 6-12 tahun. Dapat diketahui
perkembangan bahasa dan bicara pada masa kanak-kanak akhir, diantaranya :
Perkembangan bahasa dan bicara pada anak semakin
meningkat sesuai dengan peningkatan usianya. Seperti survei yang kami lakukan
yaitu dengan teks narasi yang disediakan, setiap anak dengan usia yang berbeda
diminta untuk membaca teks narasi tersebut dan hasilnya terdapat beberapa
perbedaan kemampuan membaca pada setiap anak.
·
Anak-anak usia 6-7 tahun seperti
Syahdan, Karly, dan Elin,
mereka tidak bisa membaca teks narasi yang diberikan karena mereka belum
diperkenalkan tentang kata-kata yang terdapat dalam teks narasi tersebut.
Banyak kata yang mereka tidak tahu sehingga mereka tidak bisa memahaminya. Hal
ini dikarenakan anak usia 6 tahun baru diperkenalkan dengan kata-kata yang
sederhana dan terdapat pada lingkungan sehari-hari.
·
Anak-anak usia 8 tahun seperti Sella, mereka bisa membaca
teks narasi yang diberikan. Namun, terdapat kata-kata yang salah pengejaannya
dimana mereka belum begitu mengenali kata-kata tersebut karena masih terlihat
asing bagi mereka. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa dan berbicara
mereka lebih tinggi dibandingkan dengan anak usia 6-7 tahun.
·
Anak
usia 9 tahun seperti Iis,
mereka cukup lancar dalam membaca teks narasi tersebut. Kesalahan dalam mengeja
juga sedikit, hanya terdapat pada kata-kata yang memang sedikit susah dalam
membacanya. Namun, beberapa kata yang terdapat pada teks narasi tersebut,
mereka bisa memahami artinya.
·
Anak
usia 10 tahun seperti Rohmat dan Wahyu, mereka sudah lancar dalam membaca teks
narasi tersebut. Pemahaman arti kata-kata juga sudah cukup baik.
·
Anak
usia 11-12 tahun, mereka sudah sangat lancar dalam membaca teks narasi.
Perbendaharaan kata yang mereka miliki sudah banyak, sehingga mereka pintar dalam
memilih tata bahasa yang baik untuk berbicara dengan orang lain.
Berdasarkan hasil survei yang kami lakukan di TPA
Masjid Gondok Mulia terhadap anak-anak usia 6-12 tahun. Dapat diketahui
perkembangan bahasa dan bicara pada masa kanak-kanak akhir, diantaranya :
1. Perkembangan Bahasa
Pada masa kanak-kanak akhir, perkembangan bahasa
nampak pada perubahan pembendaharaan kata dan tata bahasa. Dimana anak-anak
pada masa ini mempunyai kemampuan dalam mengumpulkan kata-kata yang dimilikinya
sesuai dengan umurnya masing-masing. Semakin tua umur anak, maka kumpulan
kata-kata yang diketahuinya semakin banyak.
Bersamaan dengan pertumbuhan pembendaharaan kata
selama masa sekolah, anak-anak semakin banyak menggunakan kata kerja yang tepat
untuk menjelaskan satu tindakan seperti memukul, melempar, menendang, atau
melempar. Mereka belajar tidak hanya untuk menggunakan banyak kata lagi, tetapi
juga memilih kata yang tepat untuk penggunaan tertentu.
Perkembangan kemampuan bahasa pada anak dipengaruhi
oleh dua faktor, yaitu matangnya organ-organ tubuh untuk berbicara dan proses
belajar.
Indikasi
berkembangnya keterampilan berbahasa :
a)
Mampu berkomunikasi dg baik;
b)
Mampu menyatakan isi hatinya;
c)
Terampil dlm mengolah informasi yg diterimanya;
d)
Mampu menyatakan sikap dan keyakinannya.
2.
Perkembangan Bicara
Bertambahnya kosa kata yang diketahui anak akan
memperkaya perbendaharaan kata yang dimiliki pada setiap anak. Dengan perbedaan
jumlah perbendaharaan kata, akan mempengaruhi kemampuan berbicara pada anak
dalam melakukan komunikasi yang lebih bermakna.
Pada awal masuk sekolah sebagian anak mengalami
gangguan keseimbangan dalam penyesuain diri dengan lingkungan sekolah. Sekolah
menjadi dasar penghubung dalam proses berpikir anak untuk menerjemahkan bahasa
konsep ke dunia realistis atau nyata dan sebaliknya.
Membaca dan menulis menjadi dasar pengembangan
kemampuan mengarang, bercerita, dan lain-lain. Minat membaca atau kegemaran
membaca pada anak-anak mencapai puncaknya pada masa anak-anak akhir yaitu usia
9 – 12 tahun.
Sifat ingin tahu & realistis pada anak laki-laki
lebih tinggi dibandingkan anak perempuan. Hal ini membuat anak laki-laki lebih
menyukai bacaan petualangan, misterius, sejarah, hobi, sport. Sedangkan anak
perempuan cenderung suka terhadap cerita binatang, puisi, dan cerita dari kitab
suci maupun kehidupan seputar rumah tangga. Dari kegiatan membaca inilah anak
memperkaya perbendaharaan kata dan tata bahasa sebagai bekal untuk berbicara
dan berkomunikasi dengan orang lain.
Berdasarkan survei yang dilakukan, disimpulkan bahwa
perkembangan bahasa dan bicara pada anak berbeda-beda sesuai dengan usia yang
dimilikinya. Semakin tua usia anak maka kemampuan bahasa dan bicara pada anak
juga semakin meningkat.
E.
PERKEMBANGAN MORAL
Perkembangan
moral ditandai dengan kemampuan anak untuk memahami aturan, norma dan etika
yang berlaku di masyarakat. Untuk mengetahui perkembangan moral anak pada masa
kanak-kanak akhir, anak-anak diberikan dua pertanyaan berikut ini:
1. Mana yang lebih bersalah, menjatuhkan 4
gelas secara tidak sengaja atau menjatuhkan 1 gelas secara sengaja?
2. Ketika bermain, memilih kalah atau
menang tapi dengan cara curang?
Jawaban dari anak-anak TPA tersebut adalah:
a.
Rohmat (Kelas IV SD, Umur 10 tahun)
1. Memecahkan 1 gelas secara sengaja.
2. Memilih kalah dengan cara yang baik.
b.
Wahyu (Kelas IV SD, Umur 10 tahun)
1. Memecahkan 1 gelas secara sengaja.
2. Memilih kalah dengan cara yang baik.
c.
Iis Febriyani (Kelas III, Umur 9 tahun)
1.
Memecahkan 1 gelas secara sengaja.
2.
Memilih kalah , karena curang itu dosa.
d.
Elin (Kelas I, Umur 7 tahun)
1.
Memecahkan 1 gelas secara sengaja. (kok
pertanyaannya sulit)
2.
Memilih kalah.
e.
Karly (TK, Umur 6 tahun)
1.
Memecahkan 1 gelas secara sengaja.
2.
Memilih menang.
f.
Syahdan (TK, Umur 6 tahun)
1.
Memecahkan 2 gelas secara sengaja.
2.
Memilih menang tapi gak curang.
g.
Ata (TK, Umur 5 tahun)
1.
Memecahkan 1 gelas secara sengaja.
2.
Memilih kalah
h.
Sella (SD kelas
II, Umur 8 tahun)
1.
Memecahkan 4 gelas secara gak sengaja.
2.
Memilih kalah
Berdasarkan hasil
survei yang kami lakukan, anak-anak masih mengikuti etika yang berlaku, seperti
pertanyaan pertama 6 anak menjawab lebih bersalah jika menjatuhkan 1 gelas tapi
dengan cara sengaja, 1 anak menjawab menjatuhkan 4 gelas tanpa sengaja, dan 1
anak menjawab menjatuhkan 2 gelas secara sengaja. Perilaku moral ini banyak
dipengaruhi oleh pola asuh orang tuanya serta perilaku moral dari orang-orang
disekitarnya. Perkembangan moral ini juga tidak terlepas dari perkembangan
kognitif dan emosi anak.
Menurut Piaget, antara
usia 5 sampai 12 tahun konsep anak mengenai keadilan sudah berubah. Pengertian
yang kaku tentang benar salah mengenai keadilan sudah berubah. Piaget
menyatakan bahwa relativisme moral menggantikan moral yang kaku. Piaget
berpendapat bahwa anak yang lebih muda ditandai dengan moral yang heteronomous,
sedangkan anak pada usia 10 tahun mereka sudah bergerak ke tingkat yang lebih
tinggi yang disebut moralitas autonomous.
Menurut Kohlberg tingkat
kedua dari perkembangan moral masa ini disebut tingkat konvensional. Dalam
tingkat kedua Kohlberg menyatakan bahwa bila kelompok sosial
menerima peraturan-peraturan yang sesuai bagi semua anggota kelompok, ia harus
menyesuaikan diri dengan peraturan untuk menghindari penolakan kelompok dan
celaan. Pengembangan moral termasuk nilai-nilai agama merupakan hal yang sangat
penting dalam membentuk sikap dan kepribadian anak. Mengenalkan anak pada
nilai-nilai agama dan memberikan pengarahan terhadap anak tentang hal-hal yang
terpuji dan tercela .
F.
PERKEMBANGAN EMOSI
Emosi memaikan
peran yang penting dalam kehidupan anak. Akibat dari emosi ini juga dirasakan
oleh fisik anak terutama bila emosi itu kuat dan berulang-ulang. Sering dan
kuatnya emosi anak akan merugikan penyesuaian sosial anak. Emosi yang tidak
menyenangkan (unpleasant emotion) seperti takut, marah, cemburu, irihati dapat
merugikan perkembangan anak. Sedangkan emosi yang menyenangkan (pleasant
emotion) seperti kasih saying, kebahagiaan, rasa ingin tau, suka cita sangat
membantu dan sangat dibutuhkan dalam perkembangan anak.
Pergaulan yang semakin luas
dengan teman sekolah dan teman sebaya membawa anak belajar bahwa ungkapan
emosi yang kurang baik tidak diterima oleh teman-temannya. Anak belajar
mengendalikan ungkapan-ungkapan emosi yang kurang dapat diterima, seperti:
amarah, menyakiti perasaan teman, ketakutan dan sebagainya.
Perkembangan emosi pada masa
kanak-kanak akhir juga tidak dapat
dipisahkan dengan perkembangan social. Orang-orang disekitarnyalah yang banyak
mempengaruhi perilaku sosialnya. Dunia sosioemosional anak menjadi semakin
kompleks dan berbeda pada masa ini. Interaklsi dengan keluarga, teman sebaya,
sekolah dan hubungan dengan guru memiliki peran yang pentingdalam hidup anak.
Pemahaman tentang diri dan perubahan dalam perkembangan gender dan moral
menandai perkembangan anak selama masa kanak-kanak akhir.
Ciri-ciri
Emosi Masa kanak-kanak:
- Emosi anak berlangsung relative lebih singkat
(sebentar), hanya beberapa menit dan sifatnya tiba-tiba. Hal
ini disebabkan karena emosi anak menampakkan dirinya di dalam kegiatan
atau gerakan yang Nampak, sehingga menghasilkan emosi yang pendek, tidak
seperti pada orang dewasa yang dapat berangsung lama. Emosi yang khusus
pada anak-anak adalah: kesedihan, kemurungan, ketakutan, ketegangan,
kebahagiaan, humor dan sebagainya
- Emosi anak kuat atau hebat. Hal
ini terlihat bila anak: takut, marah atau sedang
bersenda gurau. Mereka akan tampak marah seklai, takut sekali, tertawa
terbahak-bahak meskipun kemudian cepat hilang.
- Emosi anak mudah berubah.
Sering kita jumpai seorang anak yang baru saja menagis berubah menjadi
tertawa, dari marah berubah tersenyum. Sering terjadi perubahan, saling
berganti-ganti emosi, dari emosi susah ke emosi senang dan sebaliknya
dalam waktu yang singkat.
- Emosi anak Nampak
berulang-ulang. Hal ini timbul karena anak
dalam proses perkembangan kea rah kedewasaan. Ia harus mengadakan
penyesuaian terhadap situasi di luar, dan hal ini dilakukan secara
berulang-ulang. Anak sering menagis, sering marah, sering takut. Mungkin
anak sehari menagis 7 kali, marah 5 kali dan seterusnya.
- Respon emosi anak berbeda-beda. Pada
waktu bayi lahir, pola responnya sama. Secara berangsur-angsur ,
pengalaman belajar dari lingkungannya membentuk tingkah laku dengan
perbedaan emosi secara individual.
Misalnya: anak yang dibawa ke dokter giri, responnya ada yang
tertawa, ada yang menangis, ada yang tidak memperliahtkan reaksi apapun.
- Emosi anak dapat diketahui atai
dideteksi dari gejala tingkah lakunya.
Meskipun anak kadang-kadang tidak memperlihatkan reaksi emosi yang Nampak
dan langsung, namun emosi itu dapat diketahui dari tingkah lakunya,
misalnya melamun, gelisah, menghisap jari, sering menagis dan sebagainya.
- Emosi anak mengalami perubahan dalam kekuatannya. Suatu
ketika emosi itu begiti kuat, kemudian berkuarng. Emosi yang lain
mula-mula lemah kemudian beribah menjadi kuat. Misalnya: seorang anak
memperlihatkan rasa malu-malu di tempat yang masih asing. Kemudian ketika
ia sudah tidak merasa asing lagi rasa malunya berkurang atau bahkan
hilang.
- Perubahan dalam ungkapan-ungkapan
emosional. Anak-anak memperlihatkan keinginan yang kuat
terhadap apa yang mereka inginkan. Ia tidak mempertimbangkan bahwa
keinginan itu merupakan baik untuk
dirinya sendiri maupun orang lain, juga tidak mempertimbangkan bahwa untuk
memenuhi keinginannya itu memerlukan biaya yang tidak terjangkau oleh
orangtuanya. Bila keinginannya tidak terpenuhi ia akan marah. Sebaliknya
jika ia merasa senang, bahagia, tanpa melihat tempat dan waktu ia akan
tersenyum atau tertawa, meskipun orang lain kadang-kadang tidak mengetahui
apa yang dirasakan oleh anak.
G. PERKEMBANGAN
SOSIAL
Perkembangan
emosi tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan sosial, yang sering disebut
dengan perkembangan tingkah laku sosial. Bahkan perkembangan sosial ini yang
membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Untuk mengetahui perkembangan sosial anak pada masa
kanak-kanak akhir, anak-anak diberikan dua pertanyaan berikut ini:
1. Kamu mempunyai 2 roti dengan rasa yang
berbeda dan kedunya kamu suka. Bila ada teman yang tidak memiliki roti dan
sedang lapar, apa yang akan kamu lakukan?
2. Apakah kamu sering belajar kelompok?
Berikan alasanmu.
Jawaban dari anak-anak
TPA tersebut adalah:
a.
Rohmat (Kelas IV SD, Umur 10 tahun)
1.
Memberi rotinya kepada teman yang lapar
2.
Sering, karena membuat tugas.
b.
Wahyu (Kelas IV SD, Umur 10 tahun)
1.
Memberi rotinya kepada teman dengan ikhlas
2.
Sering, supaya pintar, ngerjain tugas dan bisa
bertemu dengan teman-teman.
c.
Iis Febriyani (Kelas III, Umur 9 tahun)
1.
Memberi rotinya, karena kalo enggak dikasih nanti
dibilang pelit.
2.
Suka, tapi jauh-jauh rumahnya. Jadi, belajar
kelompoknya kalau di kelas saja.
d.
Sella (SD kelas
II, Umur 8 tahun)
1.
Mau ngasih
2.
Sering, hampir setiap hari.
e.
Elin (Kelas I, Umur 7 tahun)
1.
Dikasih aja, diikhlasin aja.
2.
Pernah 1x karena disuruh bu guru. Kalo gak disuruh
tetap mau belajar kelompok.
f.
Karly (TK, Umur 6
tahun)
1.
Dikasih aja, takut nangis temannya.
2.
Belum pernah
g.
Syahdan (TK, Umur 6 tahun)
1.
Mau ngasih 1 yang coklat
2.
Suka ke rumah Karli
h.
Ata (TK, Umur 5 tahun)
1. Gak mau ngasih
2. Tidak pernah
soalnya rumahnya jauh.
Berdasarkan
hasil survei di atas, ketika ditanya apakah akan membagi salah satu rotinya ke
teman, 7 anak menjawab akan memberikan salah satu roti tersebut ke teman yang sedang
lapar meskipun kedua rotinya dia suka. Hanya satu anak yang tidak akan
memberikan ke teman yang lapar yaitu Ata yang masih berumur 5 tahun yang
tergolong usia anak awal. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan sosial anak
akhir lebih baik daripada anak usia awal yang masih mementingkan diri sendiri.
Pertanyaan kedua adalah pertanyaan tentang seberapa
sering anak-anak belajar kelompok dengan temannya. Untuk anak kelas IV ke atas,
mereka sering belajar kelompok karena ingin menyelesaiakn tugas kelompok mereka
dengan baik. Sedangkan untuk Isti yang kelas III, dia suka belajar kelompok
tetapi rumahnya jauh-jauh, jadi jarang bahkan hampir tidak pernah belajar
kelompok. Isti hanya belajar kelompok di sekolah ketika bertemu dengan
teman-temannya. Untuk kelas I dan kelas II, mereka juga belajar kelompok untuk menyelesaikan
tugas dari guru. Dari hasil survei tersebut nampak bahwa anak-anak pada masa
kanak-kanak akhir lebih banyak menghabiskan waktunya bersama teman-teman sebaya
di sekolah, sehingga perkembangan sosial anak mendapat pengaruh terbesar dari
teman sebaya di lingkungan sekolah. Menurut Santrock, 1998, yang dikutip dari makalah yang
disusun oleh Langgersari Elsari Novianti, teman sebaya pada masa ini memiliki 6 fungsi, yakni:
persahabatan, motivasi/mendorong, physical support, ego support, untuk
perbandingan sosial, keintiman/relasi afeksi. Untuk itu, guru menggantikan fungsi orang tua di sekolah. Guru
perlu memperhatikan kegiatan siswa-siswanya di sekolah. Memberikan pengarahan
dan bimbingan dalam interaksi mereka.
Tidak hanya di sekolah, lingkungan keluarga dan
lingkungan masyarakat pun ikut menyumbang perkembangan sosial anak. Meskipun
waktu anak-anak bersama keluarganya cenderung berkurang karena anak lebih
banyak di sekolah dan atau bermain dengan teman-teman sebayanya, namun dalam hal
penanaman norma sosial, kontrol, dan disiplin, orang tua masih memiliki peranan
penting bagi anak.