Oktober 30, 2016

Jawaban Singkat Adalah Jawaban Yang Paling Berbahaya

Refleksi Kuliah Filsafat Pendidikan Matematika
Tanggal 11 Oktober 2016
Dosen: Prof. Marsigit

Jawaban Singkat adalah Jawaban yang Paling Berbahaya

Perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika dilaksanakan pada tanggal 11 Oktober 2016 yang dimulai pada pukul 7.30 WIB di Ruang Kuliah D.07.2.01.09 Fakultas Matematiika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta. Perkuliahan diawali dengan tes jawab cepat sebanyak 50 soal, kemudian dilanjutkan dengan mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan bebas yang ditemui dalam kehidupan. Pertanyaan-pertanyaan ini nantinya akan dijawab oleh Pak Marsigit dalam pertemuan tersebut.
Setelah tes, antar mahasiswa mengoreksi pekerjaan mahasiswa lain. Hasilnya adalah 2 mahasiswa mendapat nilai dua, 1 mahasiswa mendapat nilai empat, 1 mahasiswa mendapat nilai 6, dan 24 mahasiswa mendapat nilai nol. Pak Marsigit mengatakan bahwa ini berarti secara filsafat, Pak Marsigit sedang berbicara dengan makhluk halus, karena mahasiswa mendapat nilai 0 yang artinya mahasiswa tidak ada di tempat tersebut (ruang kuliah). Pertanyaan-pertanyaan dalam tes tersebut memiliki fungsi berstuktur, mulai dari materisl sampai spiritual. Stuktur dunia ini dimulai dari material dan yang paling tinggi adalah spiritual. Secara spiritual, nilai 0 diartikan sebagai anjuran untuk bertaubat dari kesombongan tidak mau belajar (membaca blog) karena semua jawaban dari tes sudah ada dalam postingan blog Pak Marsigit. Sedangkan secara material, nilai 0 diartikan dengan "dijewer" (dalam Bahasa Jawa) atau ditarik telingannya sebagai bentuk peringatan/hukuman secara material.
Dari hasil tes tersebut juga dapat diartikan bahwa tidak ada yang dapat mengejar pikiran Pak Marsigit. Bahkan Pak Marsigit tidak dapat mengejar pikiran Pak Marsigit sendiri, apalagi orang lain. Ilustrasinya, Pak Marsigit di ruang kuliah namun pikirannya sudah di senat, lalu berangkat ke Tokyo, setelah itu pulang ke rumah, jadi apa yang akan dikejar. Pak Marsigit tidak dapat mengejar dirinya sendiri., apalagi orang lain. Maka, sebenar-benarnya hidup adalah interaksi (hermeunitika), terjemah-menterjemahkan. Selain itu, semua saling berpasangan, suami dan istri, anak dan bapak, napas dan darah, yang ada dan yang munkgin ada, sebenar-benar hidup adalah struktur yang paling sederhana yaitu yang ada. Bentuk yang ada itu ada dua, yaitu wadah dan isinya. Contoh, ucapan dan maksudnya, ucapan sebagai wadah dan maksud sebagai isinya.
Yang selanjutnya adalah menjawab pertanyaan yang ditulis mahasiswa dalam selembar kertas. Pertanyaan pertama adalah "Apakah jawaban saya dalam tes jawab singkat terkait dengan filsafat?"
Jawaban yang diberikan oleh Pak Marsigit adalah "Filsafat itu jawabannya ruang dan waktu. Pertanyaan yang sama bisa memiliki jawaban yang berbeda. Jawaban bergantung pada konteksnya. Dan jawaban-jawaban yang diberikan pada tes jawab singkat itu semua salah. Karena tiadalah jawaban yang singkat di dalam filsafat. Jawaban singkat bukanlah menjelaskan dan jawaban singkat itu paling berbahaya di dunia. Seperti orang yang menggunakan pisau dan digunakan dalam satu kali tusuk.
Jawaban singkat itu artinya memilih dan memilih artinya reduksi. Reduksi berarti mengambil satu dan membuang yang lain. Misalnya kita memandang salah satu orang, artinya kita mengeliminasi yang lain. Tereliminasi itu berbahaya. Namun, kita tidak dapat hidup jika tidak dapat memilih. Maka, sebenar-benar hidup adalah memilih dan melengkapi.
Pada saat itu, kita semua sedang mendengarkan suara Air Conditioner (AC). Suara AC itu menunjukkan bahwa ada yang berputar di dalamnya. Dan setelah berputar, lalu dihembuskan. Sebenar-benar kehidupan AC adalah linier dan siklik. Ketika kita menghirup udara, terjadi proses linier. Udara berjalan di dalam tubuh dengan berputar. Karena jika udara itu berjalan lurus, maka hanya akan ada beberapa darah yang kena. Dan efeknya mata kita menjadi tidak imbang. Satu terkena oksigen dan yang satu tidak terkena oksigen sehingga menjadi tidak simetris. Hidup itu adalah keseimbangan, seperti halnya mata. Jika mata kiri dan mata kanan tidak seimbang, itu sudah menjadi masalah bagi kita, apalagi jika hidup kita tidak seimbang.
Jika kita bicara satu sisi dalam filsafat, Itu hal yang merugikan untuk yang lain. Kenapa, itu baru separuh dunia, karena separuh dunia yang lain adalah pikiran. Dalam filsfat, pikirkanlah pengalamanmu itu kemudian wujudkanlah pikiranmu itu, artinya nyata dalam kehidupan seperti itu dan itupun baru kelihatan utuh dalam ¾, untuk separuhnya lagi digabungkan hanya baru dapat separuh, yang separuhnya lagi hati kita.Tidak cukup untuk dipikirkan tapi doakan pikiranmu itu dan kerjakanlah doamu itu. Pikiran kacau jika tidak diimbangi dengan membaca, contohnya pembicaraan orang orang awam di lingkungan masyarakat itu hanya sepotong-potong dan tarsial. Hanya orang-orang dalam bidangnya yang bisa menjawab. Filsafat yang ada itu bisa ontologi dan bisa metafisik. Filsafat mengada, yang ontologi bisa dijawab dalam metafisik.
Filsafat berbeda dengan matematika, filsafat hanya terbayang-bayang sedangkan matematika dari yang tidak jelas menjadi jelas. Pikiran dalam level umum mewadahi semuanya, epismotologi, tetapi pikiran yang tidak memikirkan pengalaman namanya rosionalisme. Filsafat itu ilmu yang lembut dan dirasakan, semua itu tergantung levelnya, sedangkan matematika itu tergantung definisinya. Immanuel Kant mengatakan matematika bukan ilmu, menurutnya ilmu adalah gabungan antara berfikir dan pengalaman.
Pertanyaan kedua adalah "Kenapa melihat keburukan orang lain itu lebih muda daripada melihat keburukan sendiri?"
Sebelum menjawab, kita harus tau kenapa psikologi difilsafatkan dan kita juga harus membedakan phsikologi, filsafat, sisologi. Agar bisa membedakan dengan cara membaca supaya bisa mencairkan suasana. Kenapa melihat keburukan orang lain itu lebih mudah, karena orang itu memiliki ego. Ego itu ikhtiar dan takdir, untuk menyikapi ego adalah dengan disyukuri. Setiap yang ada dan yang mungkin ada adalah dunianya, dunia penglihatan, dunia pendengaran, dunia kata-kata. Rekayasa manusia adalah rekayasa alami, jangan ibaratkan hidup seperti baterai karena rasanya sangat tersiksa. Syarat untuk mencari ilmu adalah keterbukaan pikiran dan hati, yang menutupi pikiran dan hati adalah kesombongan. Sumber dari kesombongan adalah ego.
Pertanyaan ketiga adalah "Kenapa manusia  merasa tidak pernah puas terhadap yang dimiliki?"
Karena manusia hanya berinteraksi antara puas dan tidak puas. Kalau kita sudah jelas, jelas itu dilevel tertentu dan di ruang tertentu, misalnya rumus abc. Selama masih ada hal yang belum kita ketahui disitu juga kita belum begitu jelas. Ini hanyalah mitos dan mitos itu bisa dibuat orang lain, sebenar-benar mitos itu diciptakan subyeknya.
Pertanyaan keempat adalah "Apa maksud dari menembus ruang dan waktu?"
Menembus ruang dan waktu adalah waktu yang lalu, waktu sekarang dan waktu yang akan datang. Tidak ada di dunia ini yang tidak bisa dikaitkan dengan waktu. Kesimpulannya adalah tidak ada yang bisa dikaitkan dengan kapan. Manusia itu unlimited dalam limited, limited dalam unlimited. Hidup manusia sempurna dan tidak sempurna semua bisa didefinisikan.
Tidak ada didunia ini yang bisa dikaitkan dengan tempat, bisa kita tahu lewat dimana tetapi dimana itu bisa di depan apa saja. Sebenar-benar hidup adalah, kita paham waktu dalam menggunakan ruang dan sebenar-benar hidup adalah kita menggunakan ruang dalam memahami waktu. Jadi mendefinisikan waktu menggunakan ruang dan mendefinisikan ruang menggunakan waktu. Sebenar-benar hidup kita adalah interaksi menterjemahkan antara waktu dan ruang terus menerus selama hidup. Waktu bisa diartikan sebagai Google Earth, bisa di zoom out bisa juga di zoom in.
Pertanyaan kelima adalah "Kapan seseorang dikatakan dewasa?"
Dewasa itu terminologi psikologi. Psikologi itu gejala jiwa artinya ilmu yang mempelajari gejala jiwa. Semua yang ada dan mungkin ada kalau dalam filsafat. Arti dewasa dalam filsafat orang terlihat dewasa itu berstruktur berherarki. Psikologi dan filsafat beda dalam pandangannya, dalam psikologi dewasa itu menurut pendapat orang lain sedangkan dalam filsafat dicari ontologinya atau hakikatnya. 1001 indikator dewasa kita berfikir tarsial dalam rangka politik, misalnya dari sisi waktu dan material.


Modul P5 Fase E Tema Gaya Hidup Berkelanjutan: Berkolaborasi Membangun Sekolah Nyaman dan Asri

Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) merupakan bagian yang wajib dilaksanakan dalam pelaksanaan kurikulum merdeka. Sebelum me...