Januari 22, 2017

Filsafat Awal dan Akhir Zaman

Refleksi Perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika
Selasa, 1 November 2016
Disusun Oleh Seftika Anggraini (13301241013)

Filsafat Awal dan Akhir Zaman
Perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika dilaksanakan pada tanggal 1 November 2016 yang dilaksanakan pada pukul 7.30 – 9.10 WIB di Ruang Kuliah D.07.2.01.09 Fakultas Matematiika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta. Perkuliahan dilaksanakan dengan pemaparan materi-materi filsafat yang disampaikan oleh Pak Marsigit.
Obyek dalam filsafat adalah "yang ada" dan "yang mungkin ada". Filsafat awal dan akhir zaman dibagi menjadi tiga, yaitu zaman kegelapan, zaman pencerahan, dan zaman Modern.
A.   Filsafat Zaman Kegelapan
Sampai pada abad ke-13, kehidupan kebenaran di Eropa dikuasai oleh gereja. Pada waktu itu, setiap orang tidak boleh mengucapkan kebenaran tanpa ada izin dari gereja. Jika ada yang melanggar itu, maka pihak gereja akan langsung menagkap dan membunuh pelakunya. Salah satu korban pada zaman gelap adalah Galileo Galilei yang dibunuh dengan dibakar.
Pada zaman kegelapan, obyek pikiran dibagi menjadi dua, yaitu di dalam pikiran manusia dan di luar pikiran manusia.
1.      Di Dalam Pikiran
Aliran dalam filsafat ini adalah idealisme dengan filsuf besarnya yaitu Plato. Idelaisme berkeyakinan bahwa realitas ini terdiri dari substansi sebagaimana ide-ide atau spirit.  Dalam Muhmidayeli (2011: 133-134) disampaikan bahwa
"Plato sebagai bapak idealisme dalam bukunya The Allegory of The Cave menyebutkan, bahwa manusia dalam menghayati makna dunia ini seperti duduk terpaku di dalam gua. Dia tidak dapat menoleh ke kanan dan ke kiri, apalagi ke belakang. Dia hanya dapat melihat ke depan dari belakang diri mereka terpancar cahaya yang akan menimbulkan berbagai bayangan di depannya. Apa yang ia lihat di depannya itulah yang dianggap sebagai dunia. Dunia yang dilihat hanyalah sebatas dunia nyata, pada hal semua itu hanyalah bayangan segala sesuatu yang berada di belakang mereka. Sesuatu yang sesungguhnya nyata bukanlah bayangan yang dipancarkan oleh cahaya yang datang dari belakang itu, tetapi sesuatu yang berada di belakang itu sendiri".
Setiap yang berada di dalam pikiran itu memiliki sifat tetap (tokohnya Permenides), contohnya kita dilahirkan oleh ibu kandung kita, ibu kandung kita selamanya hanya satu. Selain bersifat tetap, yang ada dalam pikiran juga bersifat imajiner atau abstrak sehingga muncul aliran rasionalisme (tokohnya R.Descartes). Rasionalisme memiliki keyakinan bahwa sumber pengetahuan terletak pada rasio manusia melalui persentuhannya dengan dunia nyata di dalam berbagai pengalaman empirisnya (Muhmidayeli, 2011). Sehingga muncul pernyataan "Tiada Ilmu Jika Tiada Rasio".
Selanjutnya, yang di dalam pikiran manusia itu, berfilsafat menggunakan logika sehingga bersifat konsisten. Hal inilah yang menimbulkan suatu prinsip, yaitu spiritual yang memiliki sifat mono, sehingga lahir aliran monoisme. Monoisme sendiri bersifat identitas, yaitu AKU=AKU. Sehingga dapat dikatakan aliran idealisme mengutamakan kepentingan akhirat. 
Idealisme memiliki sifat analitik atau dapat disebut dengan a priori yang berarti ilmu akan dipaham setelah dipikirkan. Jadi, untuk dapat memahami sesuatu itu setelah dipikirkan, bukan dipersepsikan (sebagai landasan teori). Untuk selanjutnya, dalam matematika yang termasuk dalam aliran ini adalah matematika murni yang lebih besifat aksiomatik.

2.      Di Luar Pikiran
Aliran dalam filsafat ini adalah realisme dengan filsuf besarnya yaitu Aristoteles yang memandang dunia dalam tema material. Dalam Muhmidayeli (2011: 136) disampaikan bahwa
"Segala sesuatu yang ada di hadapan kita adalah sesatu yang riil dan terpisah dari alam pikiran, namun ia dapat memunculkan  pikiran melalui upaya selektif terhadap berbagai pengalaman dan melalui pendayagunaan fungsi akal. Jadi, realitas yang ada adalah dalam wujud natural, sehingga dapat dikatakan bahwa segala sesuatu selalu digerakkan dari alam".
Setiap yang berada di dalam pikiran itu memiliki sifat berubah (tokohnya Heraclitos). Selain bersifat berubah, yang ada di luar pikiran itu bersifat nyata atau konkret sehingga muncul aliran empirisisme (tokohnya D.Hume). Empirisisme memiliki keyakinan bahwa semua pengetahuan diperoleh berdasarkan pengalaman. Sehingga muncul pernyataan "Tiada Ilmu Jika Tiada Pengalaman".
Selanjutnya, di luar pikiran manusia, berfilsafat dengan berdasarkan pengalaman. Hal inilah yang menyebabkannya juga disebut dengan bayangan sehingga memiliki sifat plural/jamak sehingga muncul aliran filsafat pluralisme. Ketika sedang melihat, mendengar, meraba, itu sesungguhnya sedang mencari bayangan. Pluralisme sendiri bersifat kontradiksi, yaitu AKU¹AKU. Sehingga dapat dikatakan aliran realisme mengutamakan kepentingan dunia. 
Realisme memiliki sifat sintetik atau dapat disebut dengan a posteriori yang berarti ilmu akan dipaham setelah dipersepsikan, seperti dilihat, didengar, dan lain-lain. Jadi, untuk dapat memahami sesuatu itu setelah dipersepsikan, bukan dipikirkan (terjadi ketika kegiatan pengambilan data). Untuk selanjutnya, dalam matematika yang termasuk dalam aliran ini adalah matematika sekolah yaitu matematika yang digunakan di Sekolah Dasar.
Di akhir zaman kegelapan, muncul Revolusi Copernicus. Revolusi ini berhasil menemukan teori yang bertentangan dengan teori gereja. Dalam teori gereja, alam semesta ini pusatnya adalah bumi. Karena kebijakan pembunuhan yang dilakukan oleh gereja, akhirnya secara diam-diam Copernicus menulis buku yang hingga ia meninggal pun belum diterbitkan dan dibaca oleh orang lain, yaitu Galileo Galilei. Karena itu, Galileo Galilei lah yang menjadi korbannya dan dibunuh oleh gereja. Menurut Copernicus, pusat tata surya bukan bukan bumi (geosentris) namun pusat tata surya adalah matahari (heliosentris).

B.   Filsafat Zaman Pencerahan
Pada akhir abad 13, muncul gabungan kedua aliran tersebut oleh Immanuel Kant. Dalam bukunya "The Critic of Pure Reason" Tahun 1671, Immanuel Kant mengatakan bahwa sebenar-benar ilmu jika memiliki sifat sintetik a priori. Sintetik a priori artinya suatu hal disebut ilmu jika dapat diterapkan dan penerapannya dapat dijelaskan atau di-teori-kan.

C.   Filsafat Zaman Modern
Seorang filsuf besar Aguste Comte (1798-1857) menulis buku bernama "Positivism". Aguste Comte adalah seorang mahasiswa teknik di Paris, Perancis namun lebih suka membaca filsafat. Setelah membaca semua filsafat dari zaman Yunani Kuno, Aguste Comte membuat karya tulis "Positivism" tersebut dan dengan karyanya itu, ia berhasil merubah dunia. Menurut Aguste Comte, saat ini harus berpikir realistik dan pragmatis yaitu memikirkan hal apa yang diperlukan untuk membangun dunia.
Menurut A. Comte, agama tidak lah logis untuk dapat membangun dunia. Sehingga pada struktur dunia, agama ditaruh pada tingkat paling bawah olehnya. Tingkatan diatasnya adalah filsafat dan tingkatan yang paling tinggi adalah positivisme (metode saintifik). Struktur dunia itu ditulis Aguste Comte dalam bukunya "Positivism".
Sedangkan struktur dunia di Indonesia, urutan dari yang paling rendah ke tinggi adalah: material, formal, normatif, dan spiritual. Urutan ini berdasarkan pada Pancasila. Namun, pada saat ini Indonesia secara terus menerus dijajah oleh dunia barat. Kemudian lahir struktur dunia sekarang, yaitu kontemporer. Urutan tingkatan struktur dunia kontemporer dari bawah yaitu: Archanic (manusia batu), Tribal (hidup untuk diri sendiri), Tradisional, Feodal, Modern, dan paling tinggi adalah Pos Modern/ Power Now/ Kontemporer. Power now menggunakan senjata berupa kapitalisme, pragmatisme, materialisme, liberalisme, hedonisme, dan utilitalian. Untuk menghadapinya, diperlukan "KNIGHT" atau ksatria dalam bentuk ilmu murni/dasar. Dalam dunia kontemporer, spiritual berada di tingkatan Archanic hingga tradisional. Menurut dunia kontemporer, penjajah itu lebih maju daripada duni pesantren (spiritual). Terdapat struktur dalam bentu lain, dari tingkatan paling tinggi ke rendah yaitu, filsafat, ideologi, paradigma, teori, narasi, notion. Semuanya itu berada di dalam pikiran kita. Tingkatan yang paling rendah adalah kenyataan, yang berada di luar pikiran. 
Di dalam kenyataan, banyak sekali limbah (gangguan). Kita yang sedang belajar filsafat dipengaruhi oleh filsafat, sehingga kita menjadi bayangan. Orang belajar filsafat itu seperti ikan yang berada dalam Laut Selatan yang mengandung banyak limbah. Ikan tersebut senantiasa mencari air jernih, yang dapat membedakan air yang tercemar berbagai macam limbah seperti limbah belerang dari berbagai macam gunung. Sebagai ikan, tidak mudah untuk hidup di laut yang tercemar berbagai macam limbah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Modul P5 Fase E Tema Gaya Hidup Berkelanjutan: Berkolaborasi Membangun Sekolah Nyaman dan Asri

Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) merupakan bagian yang wajib dilaksanakan dalam pelaksanaan kurikulum merdeka. Sebelum me...