Refleksi Perkuliahan Filsafat Pendidikan
Matematika
Selasa, 1 November 2016
Disusun Oleh Seftika Anggraini (13301241013)
Filsafat Awal dan Akhir Zaman
Perkuliahan Filsafat
Pendidikan Matematika dilaksanakan pada tanggal 1 November 2016 yang
dilaksanakan pada pukul 7.30 – 9.10 WIB di Ruang Kuliah D.07.2.01.09 Fakultas
Matematiika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta.
Perkuliahan dilaksanakan dengan pemaparan materi-materi filsafat yang
disampaikan oleh Pak Marsigit.
Obyek dalam filsafat adalah
"yang ada" dan "yang mungkin ada". Filsafat awal dan akhir
zaman dibagi menjadi tiga, yaitu zaman kegelapan, zaman pencerahan, dan zaman
Modern.
A. Filsafat
Zaman Kegelapan
Sampai pada abad ke-13,
kehidupan kebenaran di Eropa dikuasai oleh gereja. Pada waktu itu, setiap orang
tidak boleh mengucapkan kebenaran tanpa ada izin dari gereja. Jika ada yang
melanggar itu, maka pihak gereja akan langsung menagkap dan membunuh pelakunya.
Salah satu korban pada zaman gelap adalah Galileo Galilei yang dibunuh dengan
dibakar.
Pada zaman kegelapan, obyek
pikiran dibagi menjadi dua, yaitu di dalam pikiran manusia dan di luar pikiran
manusia.
1.
Di Dalam Pikiran
Aliran dalam filsafat ini
adalah idealisme dengan filsuf besarnya yaitu Plato. Idelaisme
berkeyakinan bahwa realitas ini terdiri dari substansi sebagaimana ide-ide atau
spirit. Dalam Muhmidayeli (2011:
133-134) disampaikan bahwa
"Plato sebagai bapak
idealisme dalam bukunya The Allegory of The Cave menyebutkan, bahwa
manusia dalam menghayati makna dunia ini seperti duduk terpaku di dalam gua.
Dia tidak dapat menoleh ke kanan dan ke kiri, apalagi ke belakang. Dia hanya
dapat melihat ke depan dari belakang diri mereka terpancar cahaya yang akan
menimbulkan berbagai bayangan di depannya. Apa yang ia lihat di depannya itulah
yang dianggap sebagai dunia. Dunia yang dilihat hanyalah sebatas dunia nyata,
pada hal semua itu hanyalah bayangan segala sesuatu yang berada di belakang
mereka. Sesuatu yang sesungguhnya nyata bukanlah bayangan yang dipancarkan oleh
cahaya yang datang dari belakang itu, tetapi sesuatu yang berada di belakang
itu sendiri".
Setiap yang berada di dalam pikiran itu
memiliki sifat tetap (tokohnya Permenides), contohnya kita dilahirkan
oleh ibu kandung kita, ibu kandung kita selamanya hanya satu. Selain bersifat
tetap, yang ada dalam pikiran juga bersifat imajiner atau abstrak sehingga
muncul aliran rasionalisme (tokohnya R.Descartes). Rasionalisme memiliki
keyakinan bahwa sumber pengetahuan terletak pada rasio manusia melalui
persentuhannya dengan dunia nyata di dalam berbagai pengalaman empirisnya
(Muhmidayeli, 2011). Sehingga muncul pernyataan "Tiada Ilmu Jika Tiada
Rasio".
Selanjutnya, yang di dalam pikiran manusia itu,
berfilsafat menggunakan logika sehingga bersifat konsisten. Hal inilah yang
menimbulkan suatu prinsip, yaitu spiritual yang memiliki sifat mono, sehingga
lahir aliran monoisme. Monoisme sendiri bersifat identitas, yaitu AKU=AKU. Sehingga
dapat dikatakan aliran idealisme mengutamakan kepentingan akhirat.
Idealisme memiliki sifat analitik atau dapat
disebut dengan a priori yang berarti ilmu akan dipaham setelah
dipikirkan. Jadi, untuk dapat memahami sesuatu itu setelah dipikirkan, bukan
dipersepsikan (sebagai landasan teori). Untuk selanjutnya, dalam matematika
yang termasuk dalam aliran ini adalah matematika murni yang lebih besifat
aksiomatik.
2.
Di Luar Pikiran
Aliran dalam filsafat ini
adalah realisme dengan filsuf besarnya yaitu Aristoteles yang memandang
dunia dalam tema material. Dalam Muhmidayeli (2011: 136) disampaikan bahwa
"Segala sesuatu yang ada
di hadapan kita adalah sesatu yang riil dan terpisah dari alam pikiran, namun
ia dapat memunculkan pikiran melalui
upaya selektif terhadap berbagai pengalaman dan melalui pendayagunaan fungsi
akal. Jadi, realitas yang ada adalah dalam wujud natural, sehingga dapat
dikatakan bahwa segala sesuatu selalu digerakkan dari alam".
Setiap yang berada di dalam pikiran itu
memiliki sifat berubah (tokohnya Heraclitos). Selain bersifat berubah,
yang ada di luar pikiran itu bersifat nyata atau konkret sehingga muncul aliran
empirisisme (tokohnya D.Hume). Empirisisme memiliki keyakinan bahwa semua
pengetahuan diperoleh berdasarkan pengalaman. Sehingga muncul pernyataan
"Tiada Ilmu Jika Tiada Pengalaman".
Selanjutnya, di luar pikiran manusia,
berfilsafat dengan berdasarkan pengalaman. Hal inilah yang menyebabkannya juga
disebut dengan bayangan sehingga memiliki sifat plural/jamak sehingga muncul
aliran filsafat pluralisme. Ketika sedang melihat, mendengar, meraba, itu
sesungguhnya sedang mencari bayangan. Pluralisme sendiri bersifat kontradiksi,
yaitu AKU¹AKU. Sehingga dapat dikatakan aliran realisme
mengutamakan kepentingan dunia.
Realisme memiliki sifat sintetik atau dapat
disebut dengan a posteriori yang berarti ilmu akan dipaham setelah
dipersepsikan, seperti dilihat, didengar, dan lain-lain. Jadi, untuk dapat
memahami sesuatu itu setelah dipersepsikan, bukan dipikirkan (terjadi ketika kegiatan
pengambilan data). Untuk selanjutnya, dalam matematika yang termasuk dalam
aliran ini adalah matematika sekolah yaitu matematika yang digunakan di Sekolah
Dasar.
Di akhir zaman kegelapan,
muncul Revolusi Copernicus. Revolusi ini berhasil menemukan teori yang
bertentangan dengan teori gereja. Dalam teori gereja, alam semesta ini pusatnya
adalah bumi. Karena kebijakan pembunuhan yang dilakukan oleh gereja, akhirnya
secara diam-diam Copernicus menulis buku yang hingga ia meninggal pun belum
diterbitkan dan dibaca oleh orang lain, yaitu Galileo Galilei. Karena itu,
Galileo Galilei lah yang menjadi korbannya dan dibunuh oleh gereja. Menurut
Copernicus, pusat tata surya bukan bukan bumi (geosentris) namun pusat tata
surya adalah matahari (heliosentris).
B. Filsafat
Zaman Pencerahan
Pada akhir abad 13, muncul
gabungan kedua aliran tersebut oleh Immanuel Kant. Dalam bukunya
"The Critic of Pure Reason" Tahun 1671, Immanuel Kant mengatakan
bahwa sebenar-benar ilmu jika memiliki sifat sintetik a priori. Sintetik a
priori artinya suatu hal disebut ilmu jika dapat diterapkan dan penerapannya
dapat dijelaskan atau di-teori-kan.
C. Filsafat
Zaman Modern
Seorang filsuf besar Aguste
Comte (1798-1857) menulis buku bernama "Positivism". Aguste Comte
adalah seorang mahasiswa teknik di Paris, Perancis namun lebih suka membaca
filsafat. Setelah membaca semua filsafat dari zaman Yunani Kuno, Aguste Comte
membuat karya tulis "Positivism" tersebut dan dengan karyanya itu, ia
berhasil merubah dunia. Menurut Aguste Comte, saat ini harus berpikir realistik
dan pragmatis yaitu memikirkan hal apa yang diperlukan untuk membangun dunia.
Menurut A. Comte, agama tidak
lah logis untuk dapat membangun dunia. Sehingga pada struktur dunia, agama
ditaruh pada tingkat paling bawah olehnya. Tingkatan diatasnya adalah filsafat
dan tingkatan yang paling tinggi adalah positivisme (metode saintifik).
Struktur dunia itu ditulis Aguste Comte dalam bukunya "Positivism".
Sedangkan struktur dunia di
Indonesia, urutan dari yang paling rendah ke tinggi adalah: material, formal,
normatif, dan spiritual. Urutan ini berdasarkan pada Pancasila. Namun, pada
saat ini Indonesia secara terus menerus dijajah oleh dunia barat. Kemudian
lahir struktur dunia sekarang, yaitu kontemporer. Urutan tingkatan struktur
dunia kontemporer dari bawah yaitu: Archanic (manusia batu), Tribal (hidup
untuk diri sendiri), Tradisional, Feodal, Modern, dan paling tinggi adalah Pos
Modern/ Power Now/ Kontemporer. Power now menggunakan senjata berupa kapitalisme,
pragmatisme, materialisme, liberalisme, hedonisme, dan utilitalian. Untuk
menghadapinya, diperlukan "KNIGHT" atau ksatria dalam bentuk ilmu
murni/dasar. Dalam dunia kontemporer, spiritual berada di tingkatan Archanic
hingga tradisional. Menurut dunia kontemporer, penjajah itu lebih maju daripada
duni pesantren (spiritual). Terdapat struktur dalam bentu lain, dari tingkatan
paling tinggi ke rendah yaitu, filsafat, ideologi, paradigma, teori, narasi,
notion. Semuanya itu berada di dalam pikiran kita. Tingkatan yang paling rendah
adalah kenyataan, yang berada di luar pikiran.
Di dalam kenyataan, banyak
sekali limbah (gangguan). Kita yang sedang belajar filsafat dipengaruhi oleh
filsafat, sehingga kita menjadi bayangan. Orang belajar filsafat itu seperti
ikan yang berada dalam Laut Selatan yang mengandung banyak limbah. Ikan
tersebut senantiasa mencari air jernih, yang dapat membedakan air yang tercemar
berbagai macam limbah seperti limbah belerang dari berbagai macam gunung.
Sebagai ikan, tidak mudah untuk hidup di laut yang tercemar berbagai macam
limbah.