Tulisan ini merupakan refleksi
dari perkuliahan filsafat ilmu pertemuan kedua, 18 September 2018 pukul 15:40 –
17.10 WIB di ruang kuliah I.01.1.01.01 dengan dosen Pengampu Prof. Marsigit dan
diikuti oleh 18 mahaisiswa.
Perkuliahan diawali dengan berdoa
menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Lalu, dilanjutkan dengan pemberian
20 soal tes jawab singkat oleh Prof. Marsigit. Setelah pengerjaan soal,
langsung dikoreksi oleh teman sendiri dan dibimbing oleh Prof. Marsigit dengan
menukarkan lembar jawab ke teman yang lain. Setelah pengoreksian dan penilaian
selesai, dilanjutkan dengan sesi Tanya jawab.
Pertanyaan pertama dari Seftika: Bagaimana cara mencapai level
pikiran dewa?
Jawaban dari Prof. Marsigit: Jika
dalam matematika, ½ + ½ + ½ = 1½, namun dalam filsafat ½ + ½ + ½ = 1. Setengah
yang pertama adalah pikirkan pekerjaanmu. Setengah yang kedua adalah kerjakan
apa yang kamu pikiran tersebut. Setengah yang terakhir adalah berdoa kepada
Sang Pencipta. Misalnya, yang sedang kamu kerjakan adalah kuliah, maka kamu
harus memikirkan kuliamu. Kamu di Pascasarjana UNY mau ngapain, mau menjadi
master, maka jalani programnya. Jadi, untuk dapat mencapai level pikiran dewa,
kita harus menjalani pikiran dan memikirkan perjalanan kita. Tidak lupa juga
untuk mengerjakan setengah yang terakhir, yaitu berdoa (ikhtiar dan takdir).
Pertanyaan kedua dari Diana: Saya pernah membaca blog yang isinya
percakapan. Orang pertama bertanya, what
is the secret of happiness? Lalu dijawab oleh orang kedua, the secret of happiness is the secret.
Jawaban dari Prof. Marsigit: Yang
aku lihat, engkau itu adalah kualitas pertama. Itu pun bergantung pada kualitas
mata saya. Disebalik kamu, kamu itu yang mana? Lalu Prof. Marsigit menyuruh kita
untuk memegang apa yang ada pada diri kita yang menggambarkan bahwa itu adalah
diri kita. Ada yang memegang tangan, ada yang memegang dada, ada yang memegang
kepala, dan yang lainnya memegang anggota badan tertentu. Lalu beliau
melanjutkan, Saya menghadapi semua orang itu tidak adil terhadap dirinya
sendiri. Jika engkau memegang kepala, maka engkau adalah kepalamu, lalu kakimu
dimana? Kakimu kau apakan? Kakimu kau anggap apa? Jadi, diirmu itu siapa?
Sesungguhnya tidak ada manusia yang sanggup menunjuk dirinya sendiri kecuali
Tuhan. Dari sisi kelengkapan, engkau itu bermilyar pangkat bermilyar, mulai
dari hijab, baju, celana, dan seterusnya. Bajumu benang yang mana, jilbabmu
benang yang mana, celanamu benang yang mana, dan seterusnya. Tanganmu, kulitmu,
dagingmu, darahmu, sel yang mana. Bahkan bermilyar pangkat semilyar, engkau
belum mampu menyebutkannya. Engkau baru menyebutnya separuhnya saja, seperempat
saja, atau sepersepuluh saja, dirimu sudah berubah menjadi diri yang lain (tua).
Apabila dihubungkan dengan
kecakupan/keseluruhan, maka engkau tidak akan mungkin bisa mencapai keseluruhan
karena sebenar-benar keseluruhan adalah Tuhan Yang Maha Esa.
Filsafat itu profesional, yaitu untuk
menjabarkan waktu yang merupakan waktu panjang maupun waktu sempit, dan waktu yang
mengalir. Kita bisa mengerti bahwa ada waktu dan waktu yang mengalir karena
adanya ruang. Jadi sebetulnya waktu itu benda. Benda itu ruang. Ruang itu
waktu. Sehingga kita semua mengalami perjalanan.
Tidak akan pernah seseorang itu
bisa mengetahui segala sesuatu. Maka, orang yang ilmunya tinggi adalah orang
yang mengaku bahwa dia tidak mengetahui segala sesuatu (oleh Socrates).
Jangankan happiness, kita sendiri pun
tidak mengerti siapa diri kita apalagi menunjuk diri orang lain. Maka, pikiran,
perasaan, darah, tulang, dan lain-lainnya itu merupakan kualitas berikutnya
(boleh kualitas kedua). Yang terlihat atau yang nampak dan yang terdengar dari
diri kita merupakan kualitas pertama. Sedangkan pikiran dan perasaan merupakan
kualitas kedua. Perasaan yang kita rasakan itu tidak ada selesainya dan
diungkap tidak akan habisnya. Ini disebut dengan infinite regress, yang ditemukan oleh Aristoteles.
Sebenar-benar hidup ini adalah infinite regress. Kita semua itu unlimited. Kita semua yang terlihat ini
hanya ikonik/wakil dari dunia kita. Dunia seseorang sama besarnya dengan dunia
orang lain dan sama besarnya dengan dunia ini. Kita ini mewakili dunia ini.
Jika seseorang menciderai seseorang yang lain, maka harus hati-hati karena itu
berarti bahwa orang terebut telah menciderai dunia dan telah membuat kiamat
dunia.
Cara mengecek apakah benar bahwa
kita mewakili dunia. Caranya dengan menyampaikan pertanyaan tentang objek
pikir. Karena memang tidak ada alat yang dapat digunakan untuk menukur objek
pikir. Langkah pertama yaitu Prof. Marsigit menyebutkan satu objek pikir. Jika
ingin mengetahui dunia yang meliputi langit dan bumi maka alatnya harus
disesuaikan. Orang bodoh adalah orang yang menggunakan alat yang sama dalam
kondisi yang berbeda. Sebaliknya, orang cerdas adalah orang yang menggunakan
alat sesuai dengan ruang dan waktunya. Tes dimulai dengan menyebutkan kata
“Jakarta”. Sudah pasti kata itu ada di pikiran semua mahasiswa disitu. Ini
sebagai bukti bahwa kita semua membawa dan mewakili dunia. Jadi, ketika kita
mengeliminasi atau menghilangkan hak dari sesuatu, maka artinya kita telah
meruntuhkan dunia. Banyak orang yang tidak menyadari akan hal itu.
Banyak orang yang semena-mena.
Hal ini terjadi karena ego. Dengan belajar filsafat ilmu, kita diajarkan untuk
menurunkan ego. Mendapatkan nilai 0 (nol) pada tes jawab singkat kuliah
filsafat ilmu merupakan salah satu jalan untuk menurunkan ego. Karena nilai nol
akan mendorong kita untuk selalu belajar dengan cara membaca blog
http://powermathematics.blogspot.com
dan memberikan komentar.
Pertanyaan ketiga dari Agnes: Bagaimana agar kita mengerti diri
kita sendiri?
Jawaban dari Prof. Marsigit: Agar
kita mengerti diri kita sendiri yaitu dengan memikirkan apa yang kita kerjakan
dan mengerjakan apa yang kita pikirkan, dilanjutkan dengan mendoakan apa yang
kita kerjakan dan mendoakan apa yang kita pikirkan. Filsafat itu dirimu
sendiri. Filsafat itu siapa saja dan apa saja. Yahudi berfilsafat, orang yang
tidak percaya Tuhan juga berfilsafat. Bahkan ada yang mengatakan bahwa kitab
suci hanyalah fiksi. Orang yang sudah berbicara seperti itu maka jangan pernah
mendengarkan orang itu lagi. Pernyataan tersebut menunjukkan pikiran sesat.
Sebingung-bingung pikiran adalah bingung dalam pikiran, namun jangan bingung
dalam hati. Hati adalah imu dan keyakinan. Itu juga dogma. Dogmanya adalah
keyakinan.
Pertanyaan keempat dari Fani: Bagaimana cara menilai spiritualitas
diri?
Jawaban dari Prof. Marsigit: Jika
filsafat adalah dirimu, maka spiritualitas juga dirimu. Tetapi itu belum cukup.
Jangan coba-coba menggambarkan spiritualitas dengan dunia. Dunia tidak
mencukupi untuk menggambarkan spiritualitas. Spiritualitas itu meliputi dunia
dan akhirat. Sedangkan akhirat kita tahunya hanya kuburan. Kuburan adalah dunia
infinity karena begitu kita masuk maka kita tidak akan bisa kembali. Beda
halnya ketika kita masih di dunia. Kita pergi ke Bali, London, atau Australia,
maka kita masih bisa kembali. Spiritualitas itu bagaimana cara kita menghindari
godaan menurut keyakinan masing-masing. Bisa dengan pikiran atau perbuatan.
Yang terpenting kita berusaha untuk menghindari godaan. Dalam ajaran Islam,
agama itu ada dua yaitu urusan dengan Tuhan dan urusan dengan manusia. Manusia
sendiri dibagi menjadi tiga. Manusia pada derajat paling bawah adalah manusia
yang orientasinya pada mulut, mata, telinga, dan perut. Manusia pada derajat
itu disebut dengan manusia basar. Derajat di atasnya yaitu manusia beribadah
pada Tuhannya manusia (insan). Manusia yang seperti itu baru Habluminallah.
Padahal manusia yang paling tinggi derajatnya adalah manusia yang habluminaalah
dan habluminannas. Habluminannas adalah manusia annas. Manusia annas adalah
manusia jejaring sistemik. Simbol dari pencapaian manusia sebagai jejaring
sitemik yang paling tinggi adalah jurnal. Kita tidak mungkin dapat lulus master
sendirian. Kita pasti memerlukan dosen, guru, karyawan, direktur, wakil
direktur, dan rektor.
Pertanyaan kelima dari Erma: Bagaimana agar bisa mencapa rendah
hati?
Jawaba dari Prof. Marsigit: Untuk
dapat mencapai rendah hati yang sesungguhnya, yaitu (1) ikhtiar (berusaha) dan
(2) berserah diri kepada Tuhan (meminta pertolongan kepada Tuhan). Karena tidak
ada satupun di dunia ini yang mampu mengusir setan daripada dirimu itu kecuali
atas pertolongan Tuhan. Dan sedikit keraguan kita di dalam hati tidak bisa
dihilangkan tanpa kuasa Tuhan. Godaan setan itu valid dan kontinyu, maka kita
jga harus valid dan kontinyu. Maka sebenar-benar manusia itu harus dalam
keadaan berdoa. Berdoa diawal dengan selalu menyebut/mengingat Tugan. Ketika
ditengah, selalu istiqomah. Akhirannya, mudah-mudahan khusnul khotimah. Khusnul
Khotimah adalah mengakhiri dengan baik, yaitu melihat diakhiri dengan baik.
Mendengar diakhiri dengan baik, menulis diakhiri dengan baik, makan diakhiri
dengan baik, kuliah diakhiri dengan baik, dan seterusnya. Esensi mengakhiri
dengan baik adalah rasa syukur. Dalam filsafat, akhiran adalah sebuah awalan.
Rasa syukur pun bisa di depan.
Pertanyaan keenam dari Yuyun: Bagaimana cara menyinkronkan hati dan
pikiran.
Jawaban dari Prof. Marsigit: Hati
adalah roda bawah. Pikiran adalah roda atas. Perjalananmu adalah perjalanan
roda yang berputar. Setiap hari, kita perlu memikirkan perasaan kita dan
merasakan pikiran kita. Contohnya sudah diberikan oleh Tuhan, yaitu bumi
mengelilingi matahari yang tidak akan pernah sampai pada tempat yang sama. Bumi
itu selain berputar pada porosnya, bumi juga berputar mengelilingi matahari.
Manusia juga begitu, disamping berputar pada porosnya, yaitu berputarnya
hati-pikiran-hati-pikiran-hati, makan-sehat-makan-sehat,
bangun-tidur-bangun-tidur, dan seterusnya. Orang Yunani menyebut ini dengan
‘hermeunetika”. Orang Jawa menyebutnya dengan “cokro manggilingan”. Cokro itu
meningkat, dan manggilingan itu berputar sehingga berjalan. Jadi perjalanan
kita itu gabungna antara siklik dan linier. Siklik yang diberi sumbu linier
maka menjadi bergerak maju. Namun, orang Amerika berpikir bahwa hidup itu hanya
linier, yaitu cari dan buang. Cari yang manis lalu sepah dibuang.
Pertanyaan ketujuh dari Widi: Ketika kita masuk surga, apa yang
kita lakukan?
Jawaban dari Prof.
Marsigit: Disini kita akan membahasnya secara filsafat, yaitu melalui reduksi.
Hidup itu pilihan. Tanpa memilih, manusia tidak akan bisa hidup. Setiap hari
kita memilih makanan, kita melihat pun memilih apa yang kita lihat. Maka,
sebenar-benar hidup itu memilih. Sebenar-benar memilih adalah ikhtiar. Kalau
sudah terpilih, itu adalah takdir. Maka hidup itu adalah “cokro manggilingan”,
yaitu perputaran antara ikhtiar dan takdir.