November 07, 2018

Bagaimana Seharusnya Manusia Hidup di Dunia?

Tulisan ini merupakan refleksi dari perkuliahan filsafat ilmu pertemuan kedua, 18 September 2018 pukul 15:40 – 17.10 WIB di ruang kuliah I.01.1.01.01 dengan dosen Pengampu Prof. Marsigit dan diikuti oleh 18 mahaisiswa.

Perkuliahan diawali dengan berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Lalu, dilanjutkan dengan pemberian 20 soal tes jawab singkat oleh Prof. Marsigit. Setelah pengerjaan soal, langsung dikoreksi oleh teman sendiri dan dibimbing oleh Prof. Marsigit dengan menukarkan lembar jawab ke teman yang lain. Setelah pengoreksian dan penilaian selesai, dilanjutkan dengan sesi Tanya jawab.

Pertanyaan pertama dari Seftika: Bagaimana cara mencapai level pikiran dewa?
Jawaban dari Prof. Marsigit: Jika dalam matematika, ½ + ½ + ½ = 1½, namun dalam filsafat ½ + ½ + ½ = 1. Setengah yang pertama adalah pikirkan pekerjaanmu. Setengah yang kedua adalah kerjakan apa yang kamu pikiran tersebut. Setengah yang terakhir adalah berdoa kepada Sang Pencipta. Misalnya, yang sedang kamu kerjakan adalah kuliah, maka kamu harus memikirkan kuliamu. Kamu di Pascasarjana UNY mau ngapain, mau menjadi master, maka jalani programnya. Jadi, untuk dapat mencapai level pikiran dewa, kita harus menjalani pikiran dan memikirkan perjalanan kita. Tidak lupa juga untuk mengerjakan setengah yang terakhir, yaitu berdoa (ikhtiar dan takdir).

Pertanyaan kedua dari Diana: Saya pernah membaca blog yang isinya percakapan. Orang pertama bertanya, what is the secret of happiness? Lalu dijawab oleh orang kedua, the secret of happiness is the secret.
Jawaban dari Prof. Marsigit: Yang aku lihat, engkau itu adalah kualitas pertama. Itu pun bergantung pada kualitas mata saya. Disebalik kamu, kamu itu yang mana? Lalu Prof. Marsigit menyuruh kita untuk memegang apa yang ada pada diri kita yang menggambarkan bahwa itu adalah diri kita. Ada yang memegang tangan, ada yang memegang dada, ada yang memegang kepala, dan yang lainnya memegang anggota badan tertentu. Lalu beliau melanjutkan, Saya menghadapi semua orang itu tidak adil terhadap dirinya sendiri. Jika engkau memegang kepala, maka engkau adalah kepalamu, lalu kakimu dimana? Kakimu kau apakan? Kakimu kau anggap apa? Jadi, diirmu itu siapa? Sesungguhnya tidak ada manusia yang sanggup menunjuk dirinya sendiri kecuali Tuhan. Dari sisi kelengkapan, engkau itu bermilyar pangkat bermilyar, mulai dari hijab, baju, celana, dan seterusnya. Bajumu benang yang mana, jilbabmu benang yang mana, celanamu benang yang mana, dan seterusnya. Tanganmu, kulitmu, dagingmu, darahmu, sel yang mana. Bahkan bermilyar pangkat semilyar, engkau belum mampu menyebutkannya. Engkau baru menyebutnya separuhnya saja, seperempat saja, atau sepersepuluh saja, dirimu sudah berubah menjadi diri yang lain (tua).  Apabila dihubungkan dengan kecakupan/keseluruhan, maka engkau tidak akan mungkin bisa mencapai keseluruhan karena sebenar-benar keseluruhan adalah Tuhan Yang Maha Esa.

Filsafat itu profesional, yaitu untuk menjabarkan waktu yang merupakan waktu panjang maupun waktu sempit, dan waktu yang mengalir. Kita bisa mengerti bahwa ada waktu dan waktu yang mengalir karena adanya ruang. Jadi sebetulnya waktu itu benda. Benda itu ruang. Ruang itu waktu. Sehingga kita semua mengalami perjalanan.

Tidak akan pernah seseorang itu bisa mengetahui segala sesuatu. Maka, orang yang ilmunya tinggi adalah orang yang mengaku bahwa dia tidak mengetahui segala sesuatu (oleh Socrates). Jangankan happiness, kita sendiri pun tidak mengerti siapa diri kita apalagi menunjuk diri orang lain. Maka, pikiran, perasaan, darah, tulang, dan lain-lainnya itu merupakan kualitas berikutnya (boleh kualitas kedua). Yang terlihat atau yang nampak dan yang terdengar dari diri kita merupakan kualitas pertama. Sedangkan pikiran dan perasaan merupakan kualitas kedua. Perasaan yang kita rasakan itu tidak ada selesainya dan diungkap tidak akan habisnya. Ini disebut dengan infinite regress, yang ditemukan oleh Aristoteles.

Sebenar-benar hidup ini adalah infinite regress. Kita semua itu unlimited. Kita semua yang terlihat ini hanya ikonik/wakil dari dunia kita. Dunia seseorang sama besarnya dengan dunia orang lain dan sama besarnya dengan dunia ini. Kita ini mewakili dunia ini. Jika seseorang menciderai seseorang yang lain, maka harus hati-hati karena itu berarti bahwa orang terebut telah menciderai dunia dan telah membuat kiamat dunia.

Cara mengecek apakah benar bahwa kita mewakili dunia. Caranya dengan menyampaikan pertanyaan tentang objek pikir. Karena memang tidak ada alat yang dapat digunakan untuk menukur objek pikir. Langkah pertama yaitu Prof. Marsigit menyebutkan satu objek pikir. Jika ingin mengetahui dunia yang meliputi langit dan bumi maka alatnya harus disesuaikan. Orang bodoh adalah orang yang menggunakan alat yang sama dalam kondisi yang berbeda. Sebaliknya, orang cerdas adalah orang yang menggunakan alat sesuai dengan ruang dan waktunya. Tes dimulai dengan menyebutkan kata “Jakarta”. Sudah pasti kata itu ada di pikiran semua mahasiswa disitu. Ini sebagai bukti bahwa kita semua membawa dan mewakili dunia. Jadi, ketika kita mengeliminasi atau menghilangkan hak dari sesuatu, maka artinya kita telah meruntuhkan dunia. Banyak orang yang tidak menyadari akan hal itu.
Banyak orang yang semena-mena. Hal ini terjadi karena ego. Dengan belajar filsafat ilmu, kita diajarkan untuk menurunkan ego. Mendapatkan nilai 0 (nol) pada tes jawab singkat kuliah filsafat ilmu merupakan salah satu jalan untuk menurunkan ego. Karena nilai nol akan mendorong kita untuk selalu belajar dengan cara membaca blog http://powermathematics.blogspot.com dan memberikan komentar.

Pertanyaan ketiga dari Agnes: Bagaimana agar kita mengerti diri kita sendiri?
Jawaban dari Prof. Marsigit: Agar kita mengerti diri kita sendiri yaitu dengan memikirkan apa yang kita kerjakan dan mengerjakan apa yang kita pikirkan, dilanjutkan dengan mendoakan apa yang kita kerjakan dan mendoakan apa yang kita pikirkan. Filsafat itu dirimu sendiri. Filsafat itu siapa saja dan apa saja. Yahudi berfilsafat, orang yang tidak percaya Tuhan juga berfilsafat. Bahkan ada yang mengatakan bahwa kitab suci hanyalah fiksi. Orang yang sudah berbicara seperti itu maka jangan pernah mendengarkan orang itu lagi. Pernyataan tersebut menunjukkan pikiran sesat. Sebingung-bingung pikiran adalah bingung dalam pikiran, namun jangan bingung dalam hati. Hati adalah imu dan keyakinan. Itu juga dogma. Dogmanya adalah keyakinan.

Pertanyaan keempat dari Fani: Bagaimana cara menilai spiritualitas diri?
Jawaban dari Prof. Marsigit: Jika filsafat adalah dirimu, maka spiritualitas juga dirimu. Tetapi itu belum cukup. Jangan coba-coba menggambarkan spiritualitas dengan dunia. Dunia tidak mencukupi untuk menggambarkan spiritualitas. Spiritualitas itu meliputi dunia dan akhirat. Sedangkan akhirat kita tahunya hanya kuburan. Kuburan adalah dunia infinity karena begitu kita masuk maka kita tidak akan bisa kembali. Beda halnya ketika kita masih di dunia. Kita pergi ke Bali, London, atau Australia, maka kita masih bisa kembali. Spiritualitas itu bagaimana cara kita menghindari godaan menurut keyakinan masing-masing. Bisa dengan pikiran atau perbuatan. Yang terpenting kita berusaha untuk menghindari godaan. Dalam ajaran Islam, agama itu ada dua yaitu urusan dengan Tuhan dan urusan dengan manusia. Manusia sendiri dibagi menjadi tiga. Manusia pada derajat paling bawah adalah manusia yang orientasinya pada mulut, mata, telinga, dan perut. Manusia pada derajat itu disebut dengan manusia basar. Derajat di atasnya yaitu manusia beribadah pada Tuhannya manusia (insan). Manusia yang seperti itu baru Habluminallah. Padahal manusia yang paling tinggi derajatnya adalah manusia yang habluminaalah dan habluminannas. Habluminannas adalah manusia annas. Manusia annas adalah manusia jejaring sistemik. Simbol dari pencapaian manusia sebagai jejaring sitemik yang paling tinggi adalah jurnal. Kita tidak mungkin dapat lulus master sendirian. Kita pasti memerlukan dosen, guru, karyawan, direktur, wakil direktur, dan rektor.

Pertanyaan kelima dari Erma: Bagaimana agar bisa mencapa rendah hati?  
Jawaba dari Prof. Marsigit: Untuk dapat mencapai rendah hati yang sesungguhnya, yaitu (1) ikhtiar (berusaha) dan (2) berserah diri kepada Tuhan (meminta pertolongan kepada Tuhan). Karena tidak ada satupun di dunia ini yang mampu mengusir setan daripada dirimu itu kecuali atas pertolongan Tuhan. Dan sedikit keraguan kita di dalam hati tidak bisa dihilangkan tanpa kuasa Tuhan. Godaan setan itu valid dan kontinyu, maka kita jga harus valid dan kontinyu. Maka sebenar-benar manusia itu harus dalam keadaan berdoa. Berdoa diawal dengan selalu menyebut/mengingat Tugan. Ketika ditengah, selalu istiqomah. Akhirannya, mudah-mudahan khusnul khotimah. Khusnul Khotimah adalah mengakhiri dengan baik, yaitu melihat diakhiri dengan baik. Mendengar diakhiri dengan baik, menulis diakhiri dengan baik, makan diakhiri dengan baik, kuliah diakhiri dengan baik, dan seterusnya. Esensi mengakhiri dengan baik adalah rasa syukur. Dalam filsafat, akhiran adalah sebuah awalan. Rasa syukur pun bisa di depan.

Pertanyaan keenam dari Yuyun: Bagaimana cara menyinkronkan hati dan pikiran.
Jawaban dari Prof. Marsigit: Hati adalah roda bawah. Pikiran adalah roda atas. Perjalananmu adalah perjalanan roda yang berputar. Setiap hari, kita perlu memikirkan perasaan kita dan merasakan pikiran kita. Contohnya sudah diberikan oleh Tuhan, yaitu bumi mengelilingi matahari yang tidak akan pernah sampai pada tempat yang sama. Bumi itu selain berputar pada porosnya, bumi juga berputar mengelilingi matahari. Manusia juga begitu, disamping berputar pada porosnya, yaitu berputarnya hati-pikiran-hati-pikiran-hati, makan-sehat-makan-sehat, bangun-tidur-bangun-tidur, dan seterusnya. Orang Yunani menyebut ini dengan ‘hermeunetika”. Orang Jawa menyebutnya dengan “cokro manggilingan”. Cokro itu meningkat, dan manggilingan itu berputar sehingga berjalan. Jadi perjalanan kita itu gabungna antara siklik dan linier. Siklik yang diberi sumbu linier maka menjadi bergerak maju. Namun, orang Amerika berpikir bahwa hidup itu hanya linier, yaitu cari dan buang. Cari yang manis lalu sepah dibuang.

Pertanyaan ketujuh dari Widi: Ketika kita masuk surga, apa yang kita lakukan?
Jawaban dari Prof. Marsigit: Disini kita akan membahasnya secara filsafat, yaitu melalui reduksi. Hidup itu pilihan. Tanpa memilih, manusia tidak akan bisa hidup. Setiap hari kita memilih makanan, kita melihat pun memilih apa yang kita lihat. Maka, sebenar-benar hidup itu memilih. Sebenar-benar memilih adalah ikhtiar. Kalau sudah terpilih, itu adalah takdir. Maka hidup itu adalah “cokro manggilingan”, yaitu perputaran antara ikhtiar dan takdir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Modul P5 Fase E Tema Gaya Hidup Berkelanjutan: Berkolaborasi Membangun Sekolah Nyaman dan Asri

Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) merupakan bagian yang wajib dilaksanakan dalam pelaksanaan kurikulum merdeka. Sebelum me...